Tekan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Semarang, Agustina Gandeng Paralegal Muslimat NU

oleh
paralegal muslimat NU
Wali Kota Semarang Agustina foto bersama dengan relawan paralegal Muslimat NU. Dua pihak sepakat untuk berkolaborasi tekan kekerasan perempuan anak. (Foto: Ist)

SemarangINFOPlus. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti berkomitmen menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan dengan menggandeng berbagai pihak, salah satunya Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).

Penegasan komitmen ini disampaikan Agustina usai menghadiri launching program Relawan Paralegal Muslimat NU di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Minggu (20/4).

“Kami senang ya, karena dapat tambahan energi dari Muslimat NU. Senang banget nih kita dan ternyata mereka sudah paralegal resmi. Jadi senang sekali,” ujar Agustina.

Lebih lanjut pihaknya mengapresiasi langkah Muslimat NU yang telah membentuk 90 relawan paralegal terlatih dan siap terjun langsung memberikan pendampingan hukum dan edukasi kepada korban kekerasan perempuan dan anak.

INFO lain :  Pemkot Semarang Terus Dorong Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Urban Farming

Agustina menambahkan bahwa Pemkot Semarang siap menjalin komunikasi dan kolaborasi lebih intensif dengan jajaran Muslimat NU.

“Karena tidak hanya yang paralegal, tapi yang Muslimat-nya juga siap membantu. Luar biasa nih,” sambung dia.

Dikatakan, Kota Semarang sejatinya telah memiliki infrastruktur dan inovasi program ramah anak dan perempuan, namun pengelolaannya perlu ditingkatkan kembali.

Beberapa program inovatif telah berjalan seperti Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kota Semarang, Forum Garpu Perak (Gerakan Pria Peduli Perempuan dan Anak), Rumah Duta Revolusi Metal (RDRM), membentuk relawan Sahabat Perempuan dan Anak (Sapa) serta hotline pengaduan kasus.

INFO lain :  Pencurian Mobil di Hotel Tentrem Semarang Terungkap, Pelaku Pemilik Pertama

Meski demikian, Agustina menyoroti pentingnya menambah jumlah tenaga penggerak dalam upaya antisipasi dan pemulihan.

“Kalau di Kota Semarang ada advokasi terhadap korban, kita bekerja sama dengan beberapa non government organization atau NGO. Tapi penggeraknya masih kurang banyak dibanding jumlah korban. Jadi penggeraknya harus lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyatakan dukungan penuhnya terhadap Paralegal Muslimat NU dan mendorong inisiatif ini.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Partisipasi masyarakat seperti Muslimat NU sangat penting,” katanya. Karena berdasarkan survei nasional, satu dari empat perempuan dan 51 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan.

INFO lain :  Tukang Bangunan di Bekasi Ditikam Saat Sedang Bekerja

“Kami juga mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada pimpinan wilayah muslimat Nahdlatul Ulama yang telah menginisiasi untuk melakukan pelatihan, training kepada relawan-relawan para legal muslimat NU. Ini adalah inisiatif yang inovatif dan inspiratif yang diharapkan dapat menjadi best practice bagi ormas-ormas lainnya,” pungkasnya.

Program Paralegal Muslimat NU merupakan inisiatif dari Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah, yang didukung oleh Pemprov Jawa Tengah dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).