Luar Biasa, Animo Warga Kota Semarang Semarakkan Dugderan

oleh
kirab dugderan semarang
Wali Kota Semarang Agustina berfoto bersama dengan masyarakat Semarang di sela Kirab Dugderan. (Foto: Ist)

SemarangINFOPlus. Gelaran Dugderan Kota Semarang tahun ini terpantau meriah dengan animo ribuan warga yang turut berpartisipasi menyemarakkan tradisi menyambut bulan suci Ramadan tersebut.

Peserta maupun warga nampak terlihat memadati Jalan Pemuda dan halaman balai kota sejak Jumat (28/2) siang guna mengikuti prosesi Kirab Dugderan. Ada yang mengenakan pakaian adat Semarangan hingga membawa patung warak ngendog, sebagai simbol akulturasi budaya di Kota Semarang.

Kirab Dugderan dipimpin Agustina Wilujeng Pramestuti, Wali Kota Semarang yang memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum,

INFO lain :  Penumpang Bandara Ahmad Yani Semarang Meningkat 21 Persen

Agustina tampak anggun. Ia mengenakan kebaya berwarna merah. Sementara wakilnya, Iswar Aminuddin mengenakan baju khas Semarangan berwarna abu-abu.

Prosesi Kirab Dugderan ditandai dengan pemukulan bedug oleh Agustina bersama jajaran Forkopimda sebagai tanda datangnya bulan suci Ramadan.

Sosok pemimpin baru Kota Semarang itu memang menjadi magnet masyarakat. Selama tahapan Dugder, Agustina dan Iswar menjadi pusat perhatian. Banyak warga yang ingin berswafoto bersamanya. Dan Agustina pun melayaninya dengan kegembiraan.

Agustina dan Iswar disambut flashmob dari ratusan siswa sekolah. Sebelum melepas kirab, Agustina Iswar memecahkan kendi sebagai pertanda kirab dimulai.

INFO lain :  Web Learning dan Video Pembelajaran Sebasa Mendapat Penghargaan Kalemdiklat Polri

Agustina Iswar kemudian menaiki kereta kencana, diikuti seluruh kepala OPD dan Forkopimda menuju Masjid Agung Kauman Semarang (MAS). Sesekali Agustina menyalami warga yang antusias menyapa dirinya.

Di MAS, dilakukan prosesi pembacaan suhuf halaqah, pengumuman tanda masuknya bulan suci Ramadan, serta pembagian roti ganjel rel di Alun-Alun Semarang. Usai di MAS, rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

“Ini adalah tradisi tahunan jelang Ramadan. Semarang ini terdiri dari berbagai macam etnis, dan kebudayaan yang disatukan,” kata Agustina.

INFO lain :  Dukung Penertiban Knalpot Brong, Wali Kota Semarang: Lampiaskan di Sirkuit Mijen

Warak ngendog merupakan hewan mitologi sebagai simbol dari akulturasi budaya yang ada di Semarang. Ada etnis Jawa, Arab, Melayu serta Tionghoa. Sebuah simbol yang menandakan Kota Semarang memiliki toleransi tinggi.

Menurut Agustina, Dugderan bisa menjadi tradisi yang mengangkat pariwisata Kota Semarang. Pengemasan yang semakin baik akan menjadi magnet wisatawan lokal maupun manca negara.

“(Dugderan) ini unik dan keren, keterlibatan masyarakatnya luar biasa. Ini bisa mengangkat nama Kota Semarang,” tandasnya. []