Musim Hujan Waspadai Leptospirosis, Jangan Buang Bangkai Tikus Sembarangan

oleh
leptospirosis
Dinkes Jateng minta masyarakat waspadai penyebaran penyakit leptospirosis yang dipicu bakteri di urine tikus. (Foto: Ist)

SemarangINFOPlus. Dinas Kesehatan atau Dinkes Jateng minta masyarakat waspadai penyakit leptospirosis di musim hujan. Masyarakat diminta tidak membuang bangkai tikus sembarangan.

Musim hujan dengan banyaknya genangan di mana-mana, membuat masyarakat mesti lebih mewaspadai munculnya penyakit leptospirosis. Terlebih, awal 2025 ini, tercatat 61 kasus yang disebabkan bakteri leptospira, dengan penyebaran salah satunya melalui kencing tikus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng Irma Makiah mengungkapkan ada beberapa cara penularan leptospirosis. Pertama, melalui kontak langsung kulit terluka dengan urin hewan pembawa bakteri leptospira.

Kedua, kontak antara kulit dengan air (genangan) dan tanah yang terkontaminasi urin hewan pembawa bakteri. Selanjutnya, mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urin tikus yang membawa bakteri leptospira.

INFO lain :  390 Pengidap Gangguan Jiwa di Jateng Dipasung Sepanjang 2021

“Bilamana tikus kencing di air, atau makanan, lalu air tersebut terkena luka atau mata. Bisa juga lewat mengonsumsi makanan yang terkena urin tikus, orang tersebut bisa terinfeksi leptospirosis,” ujarnya, Kamis (13/2).

Jika terinfeksi, orang yang terjangkit akan menunjukan sejumlah gejala. Seperti demam, nyeri di badan, nyeri di betis, mata merah, gejala kekuningan pada badan, hingga gagal ginjal yang bisa berdampak pada kematian.

Karena itu, jika seseorang berada di wilayah dengan koloni tikus, mengalami gejala, segera datangi fasillitas kesehatan. Karena, pada tahap awal leptospirosis sangat mudah dideteksi dan bisa diobati, dengan berobat di Puskesmas, klinik ataupun rumah sakit.

INFO lain :  Ratusan TKI Tiba di Tanjung Emas

Irma menyebutkan, penularan leptospirosis rentan terjadi pada lingkungan padat penduduk, persawahan, perkampungan nelayan, atau lingkungan kumuh yang menarik bersarangnya tikus. Selain itu, potensi penularan juga terjadi di daerah yang rawan banjir, rob, sungai, dan pada lokasi dengan penanganan sampah yang buruk.

“Jadi, bagi bapak dan ibu yang pekerjaannya memang berisiko seperti ke sawah, lingkungannya atau pekerja yang diharuskan turun ke daerah banjir, mohon gunakan alat pelindung diri, seperti sepatu boot. Sebab, jika ada luka sedikit saja, termasuk telapak kaki pecah-pecah, itu bisa berisiko terkena leptospirosis,” bebernya.

INFO lain :  Sosialisasi Piterpan, Mbak Ita Ingin Kantin Sekolah di Semarang Sediakan Makanan Berprotein dan Sayur

Selain itu, Irma menyarankan untuk mengeliminasi tikus secara benar. Ia mengimbau agar tikus tidak dijerat, yang berpotensi menyebarkan cairan atau darah, yang diduga terinfeksi bakteri. Karena, selain leptospira, tikus dapat membawa 48 bibit penyakit.

Ia juga mengimbau agar tidak membuang bangkai tikus yang tertangkap di jalanan. Hal itu ditakutkan dapat menyebarkan penyakit dan mengotori lingkungan.