Semarang – INFOPlus. Harkitnas harus menjadi momen anak muda, khususnya di Kota Semarang, untuk berkolaborasi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat memimpin upacara Hari Kebangkitan Nasional di Balai Kota Semarang, Senin (20/5).
Mbak Ita, sapaan Wali Kota Semarang, menyatakan saat ini generasi muda Indonesia sudah tidak lagi berjuang merebutkan kemerdekaan bangsa. Dengan momen Harkitnas, harus menjadi pelecut bagi anak-anak muda mampu ikut serta atau terlibat dalam kemajuan bangsa.
“Anak-anak muda ini akan dibuatkan satu inovasi yang mereka bisa mengimplementasi, makanya kita harapkan di momen Harkitnas ini generasi muda bisa bangkit lebih baik lagi dan hebat menuju Indonesia Emas 2045,” beber dia
Menurut Mbak Ita, banyak cara untuk mewujudkan kondisi di mana bangsa Indonesia bisa melaju pesat. Salah satunya dengan tranformasi digital. Hanya saja, saat ini hal yang harus dimaksimalkan penangannya adalah persoalan ketahanan pangan, kemiskinan, dan stunting yang selalu diserukan oleh Presiden RI Joko Widodo.
Di Kota Semarang sendiri, Mbak Ita mengaku akan berupaya untuk terus mewujudkan kemandirian pangan dan pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha yang saat ini sudah dan akan terus dilakukan seperti urban farming, dan gerakan pangan murah.
Termasuk memprakarsai terbentuknya program Kita Tani Muda. Program tersebut merupakan komitmen Pemkot Semarang dalam melahirkan generasi muda yang berdaya saing di sektor pertanian.
Kita Tani Muda juga bagian dari ikhtiar Mbak Ita untuk mewujudkan ketahanan di masa mendatang dengan memanfaatkan lahan tidur milik pemkot yang belum tergarap maksimal.
Lebih lanjut, ke depan akan ada tantangan dalam menghadapi bonus demografi. Oleh karena itu, diharapkan anak-anak muda sekarang memiliki kompetensi agar bisa berinovasi untuk memajukan Indonesia.
“Persaingan akan lebih banyak dan lebar, karena dengan adanya bonus demografi hingga 60 persen ini. Katakanlah satu lapangan pekerjaan diperebutkan sekitar 20-30 persen penduduk usia produktif Indonesia. Maka harapannya, bagaimana memberikan ruang bagi 30 persen penduduk usai produktif itu bisa menjadi entrepreneur dan pengusaha. Dan inilah harus kita lakukan agar bersama menuju Indonesia Emas,” imbuhnya. []















