Stafsus Wapres: Cara Ganjar Selesaikan Konflik PSN Patut Jadi Pola Nasional

oleh

 

Magelang – INFOPlus.  Cara Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyelesaikan konflik imbas Proyek Strategis Nasional (PSN) patut diduplikasi dan jadi pola nasional. Demikian dikatakan Staf Khusus Wakil Presiden, Imam Aziz. Menurut Imam, Ganjar berhasil mewujudkan sinergi antara pemerintah dan rakyat. Apa yang dilakukan Ganjar bisa menjadi prototype pembangunan di masa yang akan datang.

Pernyataan itu disampaikan Imam dalam Forum Group Discussion dengan tema Optimalisasi Koperasi untuk Penanggulangan Kemiskinan di Manohara Hotel, Magelang, Kamis (25/5).

INFO lain :  Jadi Wadah Aspirasi, Fungsi Konsultasi Publik Terus Dipertajam

Pernyataan Stafsus Wapres Imam merujuk pada pembentukan Koperasi Tirto Mulyo Bogowonto yang dikelola oleh warga terdampak pembangunan Bendungan Bener. Alih-alih konflik terus terjadi, warga terdampak PSN tetap bisa mengelola lahan lewat koperasi dan BUMDes, bahkan terlibat dalam proyek greenbelt Bendungan Bener.

Baginya, pola pengelolaan sabuk hijau yang dilakukan Ganjar, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWS-SO), bersama masyarakat Wonosobo, adalah yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan lahan proyek strategis nasional yang sudah dibebaskan.

INFO lain :  Borobudur Marathon 2022 Kembali Menerapkan Sistem "Ballot"

“Nah ini belum ada di Indonesia, belum pernah ada. Oleh karena itu ini kita coba untuk intensif dampingi supaya ini menjadi pola nasional. Ini prestasi Pak Ganjar,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Ganjar menyampaikan koperasi dan UMKM perannya signifikan untuk menanggulangi kemiskinan. Apalagi di Jateng banyak sekali kebijakan dan program yang bisa dimanfaatkan.

INFO lain :  Warga Pati Pasang Spanduk, Tolak Pabrik Semen

Karena itu, kesempatan dan sumber daya itu bisa digunakan warga terdampak PSN agar tetap bisa menikmati serta mengelola lahan, meski sudah diambil alih untuk pembangunan.

“Di Wadas ini ada satu koperasi yang dibentuk untuk mengakomodasi mereka yang kalau boleh disebut bahasanya korban gitu ya, mereka bisa berpartisipasi,” katanya. (Ags/Ts)