GMNI Dukung Pemerintah Evaluasi Harga Pertalite

oleh
lustrasi Pertalite.

Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau GMNI mendukung rencana pemerintah mengevaluasi harga bahan bakar minyak bersubsidi, seperti Pertalite. GMNI menilai subsidi Pertalite salah sasaran.

“Penikmat dari subsidi ini ternyata mayoritas adalah masyarakat mampu,” kata Ketua DPP GMNI Bidang Politik Maman Silaban lewat keterangan tertulis, Jumat, 30 Agustus 2022.

Maman mengatakan pemerintah selama ini memberikan subsidi Rp 6.800 untuk setiap liter Pertalite. Jumlah itu adalah selisih harga yang dibayari pemerintah dari harga pasaran bahan bakar minyak yakni Rp 14.450 per liter. Harga BBM besubsidi Pertalite saat ini adalah Rp 7.650 per liter.

Maman mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang salah sasaran subsidi tersebut. Menurut dia, 80 persen subsidi Pertalite dinikmati oleh rumah tangga mampu. Sementara, rumah tangga miskin hanya menikmati 20 persen subsidi tersebut.

INFO lain :  Perseteruan antara KPK dan POLRI

“Jika dikonversi ke rupiah, maka ada lebih dari Rp 110 triliun yang dinikmati oleh mereka yang tidak berhak,” ujar Maman. GMNI menghitung subsidi yang diberikan pemerintah untuk BBM dan gas selama 2022 adalah sebanyak Rp 402 triliun. Mereka memperkirakan jumlah konsumsi Pertalite nasional hingga Agustus 2022 sebesar Rp 128,68 triliun.

Maman mengatakan subsidi tersebut akan membebani kas negara bila dilanjutkan. Dia memperkirakan pemerintah harus mengeluarkan dana tambahan sebesar Rp 79,09 triliun hingga akhir tahun untuk menutupi kekurangan dana subsidi yang telah dianggarkan. Bila mempertahankan subsidi saat ini, dia memperkirakan kuota Pertalite akan habis pada 23 Oktober 2022.

INFO lain :  Empat Film Indonesia Tayang di Festival Film Of The Archipelago

Sebelumnya, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi Pertalite dan solar. Pemerintah ingin menaikkan harga karena anggaran subsidi dan kompensasi energi membengkak sampai Rp 502 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan berujar pemerintah tidak mungkin mempertahankan besarnya subsidi energi. Menurutnya harga BBM di Indonesia adalah yang termurah.

“Kita jauh lebih murah dari yang lain dan itu beban APBN yang besar,” ucapnya. Pemerintah masih menghitung kenaikan harga yang akan diberlakukan. Rencananya harga baru BBM bersubsidi akan terjadi di akhir Agustus atau awal September 2022.

INFO lain :  Catatan 100 Hari Kinerja Kapolri. Ada Kriminalisasi di Jawa Tengah

Rencana kenaikan harga ini memicu protes sebagian masyarakat. Kemarin, ratusan pengemudi ojek online mendatangi gedung DPR di Senayan menolak naiknya Pertalite. Mereka menilai naiknya harga bensin bersubsidi akan ikut menaikkan harga kebutuhan lainnya. Sementara, tarif ojol tidak kunjung ikut terkerek. Di hari yang sama, massa dari Himpunan Mahasiswa Islam juga menggelar demonstrasi di depan gedung DPR menolak kenaikan harga Pertalite.