Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali Darmanto yang hadir dalam acara tradisi tersebut mengatakan ternak sapi untuk masyarakat Boyolali pada umumnya dan Desa Sruni pada khusus merupakan bagian dari hidup dan kehidupan.
Praktis, kata dia, hidup masyarakat secara keseluruhan tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan sapi. Untuk itu, moment Hari Raya Lebaran Ketupat masyarakat memperlakukan ternak sapi bagian dari hidupnya.
“Jadi ketika dia suka, sapinya harus suka, sebaliknya jika dia sedih sapinya ikut bersedih. Hal ini, Syawalan Lebaran Ketupat dengan arak-arakan sapi ini, suatu tradisi yang baik sebagai peninggalan warisan budaya dari para pendahulu kami yang wajib hukumnya untuk dilestarikan,” katanya.
Pemkab Boyolali melalui Disdikbud setempat yang tugas pokok fungsinya salah satunya pemajuan kebudayaan tentu mengapresiasi atas kegiatan ini. Harapannya, masyarakat lebih total dalam mengelola ternak sapinya sehingga hal ini, menjadi motivasi masyarakat untuk terus hidup bersama ternak demi kesejahteraan mereka, demikian Darmanto.















