Sinergitas Pemerintah, Masyarakat dan Kepolisian, Penting Cegah Munculnya Paham Radikal

oleh

Semarang –  Kunci utama menanggulangi gerakan terorisme adalah sinergitas peran antar pemerintah, masyarakat dan juga kepolisian dengan menekan munculnya paham radikalis.

Hal itu menjadi perbincangan hangat dalam dialog parlemen bertema ‘Taubat Teroris’ di Cafe Cuprit Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang Selasa (4/5/2021).

Hadir di situ, Sekretaris Komisi A DPRD Jateng, Irna Setyowati, Dirbinmas Polda Jateng, Kombespol Lafri Prasetyono, Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT) Syamsul Ma’arif, dan eks narapidana terorisme (napiter) Badawi Rahman.

Badawi Rahman mengatakan awal keterlibatan paham radikalis bermula lewat kegiatan kelompok tertentu yang sering membahas doktrin. Yakni bagaimana pemahaman keliru tentang agama termasuk cara perakitan senjata api.

INFO lain :  8.126 Pekerja Pariwisata Terima Bantuan

“Paham radikalisme, mudah sangat tersebar melalui kelompok atau komunitas diskusi keagamaan dengan menekan prinsip untuk tidak sepaham dengan ideologi pemerintahan yang sah. Dari kelompok-kelompok tersebut kami mantan napiter belajar bagaimana sistem doktrinasi sampai perakitan senjata api walaupun dengan menggunakan mesin bubut. Setelah kami menjadi warga binaan dan lepas kembali ke masyarakat, stigma negatif masih tetap melekat bahkan bahkan beberapa diantara kami sulit untuk mendapat tempat di hati masyarakat. Namun, belakangan kami sudah mulai diterima masyarakat bahkan bekerja sama dengan kepolisian turut menekan paham radikalisme yang terus tumbuh,” kata dia yang masih mendapat stigma negatif di kalangan masyarakat walaupun sudah tobat.

INFO lain :  Lestarikan Ekosistem Sungai, Warga, Bhabinkamtibmas dan Babinsa Bsrsinergi Tebar Benih Ikan

Sekretaris Komisi A, Irna Setyowati juga memberikan perhatian lebih atas masalah paham radikalisme sampai berujung aksis teror di beberapa tempat.

Menurut dia peran serta masyarakat menjadi kunci utama. Pemerintah provinsi Jateng juga turut andil dalam membuat program-program bertema wawasan kebangsaan.

Harapannya program Jogo Tonggo nantinya juga bisa memberikan dukungan dalam kegiatan menangani paham radikalisme di tengah masyarakat.

“Masalah paham radikalisme dengan berujung aksi teror adalah hal yang sangat mengkhawatirkan bila tidak tertangani sampai lingkup terkecil. Paham radikalisme saat ini sangat mudah mendapat simpatisan karena teknologi informasi hampir bisa diakses semua kalangan. Menjadi concern pemerintah provinsi, hal tersebut harus bisa tertangani dengan mengadakan program wawasan kebangsaan sampai ke kelompok desa yang juga dilakukan oleh anggota dewan saat kunjungan daerah pemilihan. Kegiatan yang terus diadakan sebulan tiga kali diharapkan bisa ikut menekan, selain itu program jogo tonggo yang semula dilakukan untuk pengendalian covid diharapkan nanti berkembang menekan kelompok radikalis di lingkungan masyarakat,” jelas politikus F PDI P itu.