PEKALONGAN – Tiga alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak (Early warning system) yang dipasang di wilayah bagian atas atau pegunungan di kabupaten Pekalongan, rusak.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan Budi Raharjo mengatakan bahwa tujuh alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini dipasang di titik rawan bencana agar warga mengetahui adanya gejala bencana alam.
“Namun, tiga dari tujuh alat pendeteksi ini, khususnya yang dipasang di sejumlah titik rawan bencana alam di Kecamatan Kandangserang masih rusak,” katanya, Sabtu (31/10).
Atas dasar itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaannya terhadap longsor dan tanah bergerak seiring memasuki musim penghujan.
Budi mengatakan penyebab kerusakan tiga alat pendeteksi longsor yang rusak karena beberapa hal seperti faktor alam.
“Alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Jateng, dan harganya sangat mahal,” jelasnya.
Tujuh alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini dipasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriono, Desa Kaliombo dan Werdi Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Luragung dan Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang.
“Karena itu, kami mengimbau pada warga agar meningkatkan kewaspadaannya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan jangan membuang sampah sembarangan,” terangnya.
Dia mengatakan alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini terdiri atas tiga komponen yaitu pengukur intensitas curah hujan (rain gate), tilt meter untuk mengetahui sudut kemiringan lereng atau tanah, dan alat untuk mengukur tingkat pergerakan tanah (ekstenso meter).
Pada setiap alat pendeteksi longsor dan tanah bergerak ini, kata dia, dilengkapi alarm sehingga masyarakat yang berada di titik potensi rawan bencana dapat menetahui secara dini.
“Adapun pertimbangan alat pendeteksi longsor ini dipasang di titik rawan bencana karena sejumlah desa tersebut pernah terjadi longsor yang cukup parah,” tandasnya. (jen)
















