Meski demikian ada juga kontemporer seperti gradasi yang biasanya merupakan pesanan khusus yang sudah kekinian. Pelanggannya adalah milenial yang menyukai warna cerah, dan identik dengan pesisiran.
“Yang cerah-cerah, dan filosofinya yang berani mengambil keputusan, sinergi dengan pendatang, sinergi dengan budaya yang banyak. Muncul akhirya corak yang cerah sebagai simbol dari keberhasilan dan kerja sama,” imbuhnya.
Adapun untuk motif lokal atau ikon yang mengangkat potensi lokal Juwana seperti motif ikan bandeng yang melambangkan sumber kemakmuran warga sekitar. Ada juga motif udang windu dan udang vaname yang diangkat menjadi salah satu motif kebanggan pesisiran, motif biota laut, hingga kapal.
Sedangkan untuk melindungi motifnya, Tamzis sudah mendaftarkan hak cipta ke HAKI, dan dibantu Kementerian Koperasi, Bappeda, dan lainnya. Sampai saat ini, lanjut dia, dari usaha yang dirintisnya ada sekitar 400 motif diciptakan, di mana setiap motif bisa menghasilkan 80 ragam warna.
Tamzis juga berterima kasih dengan pemerintah yang tak henti-hentinya membantu perajin batik. Mulai dari promosi, pengaturan usaha, pendidikan, sampai pendampingan kesertifikasian professional.
“Pemerintah sangat mendukung pengusaha batik,” ujarnya.(ita)
















