Petani Milenial Ikut Jadi Tulang Punggung Pertanian

oleh
oleh

PURBALINGGA – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Mukodam mengatakan, pemuda tani diharapkan menjadi tulang punggung untuk regenerasi senior-senior petani.

Pasalnya, selama ini kelompok tani beranggotakan warga yang sudah sepuh.

“Harapan kami, petani muda ini akan menjadi motor supaya yang senior bersemangat kembali, dan mereka menjadi lebih siap ketika mendapatkan tongkat estafet dari senior. Insyaallah, dapat lari lebih kencang lagi,” ungkapnya, Rabu (2/9).

Mukodam mencontohkan, potensi pertanian Kecamatan Karangjambu memang luar biasa. Walaupun tidak banyak tanaman padi, tetapi ada kopi, bunga gelagah dan kapulaga, yang harganya bagus dan dapat dikembangkan untuk kesejahteraan bersama.

INFO lain :  Film "Pohon Terkenal" Ceritakan Kisah Taruna Akpol

Menurutnya, dengan perkembangan teknologi saat ini yang sudah semakin canggih, di mana masing-masing pemuda memiliki ponsel android, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.

“Sekarang siapa yang menguasai informasi pasar, dia yang akan berjaya,” ujar Mukodam.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi menyampaikan, cara bertani maupun pemasaran produk pertanian yang dilakukan oleh para anak muda, juga harus milenial menyesuaikan perkembangan zaman.

INFO lain :  Punya Penyakit Bawaan, Disarankan Salat Idul Adha di Rumah

“Saya percaya kualitas generasi muda saat ini. Alhamdulillah, pemuda-pemudi generasi milenial Kecamatan Karangjambu sudah melihat potensi kopi, yang mana saat ini masing-masing desa sudah dapat menghasilkan produksi kopi sendiri. Ada kopi Sirandu, Jingkang, Sanguwatang, Karangjambu, Purbasari, dan lain-lain,” katanya.

Bupati menuturkan, selama ini sektor pertanian merupakan kontribusi terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Purbalingga. Akan tetapi regenerasi petani menjadi permasalahan penting di bidang tersebut.

INFO lain :  24.460 Warga Minta Jadi Penduduk Miskin

Oleh karenanya, ia menginstruksikan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga agar seluruh lini dapat didayagunakan untuk memaksimalkan pertanian. Tidak hanya bapak-bapak, tetapi juga ibu-ibu dalam Kelompok Wanita Tani, dan anak muda, yang juga harus dibentuk.

“Menjadi tugas rumah kita bersama untuk mengembangkan potensi lokal pertanian supaya produksinya jangan sampai menurun,” kata Tiwi.(pur)