“Seperti halnya pengecekan sampah, untuk tempat camp sendiri biasanya di jalur-jalur lain dan di jalan tertentu agak sedikit kotor. Nah di tempat kita sudah bersih, meskipun keramaian pendaki hampir sama. Tapi untuk kebersihan, di kita memang ketat,” ujarnya.
Dituturkan, protokol kesehatan sebagai syarat tambahan untuk pendaki juga sudah digalakkan jauh hari sebelum basecamp dibuka pascapandemi Covid-19 melalui media sosial. Mulai dari penggunaan tenda dengan kapasitas 50 persen, sampai dengan pendaki harus membawa handsanitizer serta minimal membawa empat buah masker untuk tiap pendaki.
“Di sini memang tegas, dikatakan ramah ya ramah, dikatakan tegas ya tegas. Misalkan ada yang ngeyel, kita sarankan untuk mangga pulang. Kita tidak mau ambil risiko”, imbuhnya.
Rian juga menjelaskan, lebih baik anak-anak basecamp kerepotan di bawah daripada nanti ada masalah di atas. Karena itu akan jauh lebih merepotkan, karena dampak risikonya juga lebih besar.
Rian juga menyayangkan atas problematika pendaki masa kini yang sangat menyepelekan untuk kelengkapan pendakian yang sangat penting, padahal itu untuk keselamatan diri sendiri.
“Seperti halnya makanan yang hanya membawa mi instan. Padahal mi instan itu dari segi kalori, memang tidak ada kalorinya sama sekali. Untuk pendaki gunung itu yang dibutuhkan 2.600 kkal per ketinggian 500 mdpl atau tiga jam,” pungkasnya.(ung)















