Jualan Pisang Kacau, Sukarti Ketagihan. Gelapkan 17 Motor

oleh
oleh

SOLO – Aparat Polsek Pasar Kliwon mengamankan seorang warga Dawung Kulon, Serengan, Solo, Sukarti (55).

Janda satu anak ini harus berurusan dengan polisi lantaran menggelapkan belasan sepeda motor.

Aksi nekatnya berawal dari kesulitan mencari modal untuk jualan pisang ketika masa pandemi Covid-19 selama tiga bulan lebih, belakangan ini.

Kapolsek Pasar Kliwon, Iptu Adis Dani Garta mengatakan, ada 17 motor yang digadaikan Sukarti.

“Motifnya untuk kebutuhan ekonomi,” ujar Kapolsek, Rabu (17/6).

INFO lain :  66 Warga Desa Wadas Purworejo Akhirnya Dipulangkan

Terungkapnya perkara ini, jelas Dani, bermula saat polisi menindaklanjuti laporan korban atas motor yang tidak kunjung dikembalikan.

“Pendalaman atas laporan tersebut, maka dilakukan penangkapan. Barang bukti juga kita lakukan penyitaan di beberapa tempat,” jelasnya.

Kapolsek menerangkan, setelah dilakukan pendalaman, ternyata pelaku bukan kali ini saja melakukan penggelapan.

“Bahkan sampai belasan kali. Kita sambangi orang-orang di tempat pelaku menggadaikan motor dan mereka kooperatif menyerahkan kendaraan tersebut, saat ini kami amankan,” bebernya.

INFO lain :  Bangunan di Bantaran BKT Semarang Rata Tanah

Akibat perbuatannya, Sukarti diancam Pasal 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan dengan hukuman maksimal lima tahun penjara.

Sukarti mengaku dari aksi penggelapan yang dia lakukan, keuntungan mencapai Rp60 juta.

“Biasanya cuma motor teman saja. Terus mulai mengincar motor rentalan. Rentalnya itu punya teman saya, jadi dia percaya dan tidak menggunakan jaminan,” kata Sukarti.

Awalnya, dia menggelapkan sepeda motor Honda Beat dengan Nopol AD 2008 S milik salah seorang temannya beberapa bulan lalu. Dari aksi pertama inilah membuatnya jadi ketagihan.

INFO lain :  Terbantu Pasokan Daerah Tetangga

Istilahnya, uang diputar atau motor dipinjam dan digadaikan, setelah dapat keuntungan dari gadai motor lain, maka uangnya untuk menebus motor yang awal digadai dengan kontan maupun cicilan.

“Uangnya ludes buat kebutuhan harian dan bayar hutang, apalagi masa pandemi seperti ini sulit cari modal untuk jualan pisang kembali di pasar,” tukasnya. (mht)