Ribuan Ponpes Bisa Terdampak

oleh
oleh

JAKARTA – Gerakan Pemuda (GP) Ansor meminta pemerintah untuk tidak gegabah dalam menerapkan kebijakan pola hidup normal baru (new normal) di tengah pandemi Covid-19 yang direncanakan dimulai 1 Juni 2020.

Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta pemerintah tidak hanya menekankan satu sektor saja seperti upaya ketahanan ekonomi, tetapi juga memikirkan dampaknya di bidang pendidikan, khususnya pada pondok pesantren (ponpes).

“Lembaga pesantren di Indonesia yang jumlahnya mencapai ribuan akan banyak terdampak saat new normal diberlakukan,” katanya, Selasa (26/5).

Menurut Gus Yaqut, dengan new normal maka pendidikan di pesantren kembali berlangsung seperti sedia kala. Di sisi lain, lanjut dia, saat ini untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19 di lingkungan pesantren sangat sulit. 

INFO lain :  Tambah 396 Ribu, Penduduk Menganggur di Jateng Jadi 1,21 Juta

“Hal ini terjadi karena keterbatasan infrastruktur di pesantren, seperti tempat wudhu yang umumnya masih berupa bak terbuka atau belum berupa pancuran. Kamar pesantren umumnya juga dihuni santri dengan jumlah besar sehingga sulit untuk penerapan physical distancing,” sebutnya.

Atas dasar itu, dirinya mengajak seluruh kader Ansor dan kader NU untuk mendesak pemerintah agar bukan hanya pengusaha yang diperhatikan, tetapi juga pesantren.

Gus Yaqut juga mengungkapkan bahwa faktanya pandemi saat ini sudah memunculkan kesenjangan dan kecemburuan sosial. Untuk itu secara khusus dia menginstruksikan kepada kader Ansor untuk menjaga agar kecemburuan tidak sampai terjadi atau makin meluas. Caranya dengan saling menolong dan membantu.

INFO lain :  Gemasaba Harus Amalkan Ajaran Gus Dur

“Kita sesama kader jangan berhenti saling menyapa, menjaga tali silaturahmi. Siapa tahu ada sabahat-sahabat kita alami kesulitan baik pekerjaan maupun pangan sebisa mungkin dibantu. Bagi yang berkelebihan jangan enggan bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta, tapi menambah rezeki kita,” terangnya.

Gus Yaqut juga menyoroti potensi terjadinya krisis pangan di Indonesia. Kata dia, krisis pangan memang sekarang belum terasa karena di banyak wilayah para petani masih panen raya sehingga stok pangan masih terjaga.

INFO lain :  Kepala Daerah dan Pimpinan Dewan se-Jateng Diingatkan Tak Korupsi

Namun, lanjut dia, merujuk ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia akan mengalami musim kemarau yang panjang. Untuk itu sudah seharusnya ada langkah antisipatif agar kerawanan pangan ini tidak sampai terjadi.

Dia menyebut beberapa kader Ansor seperti di Batang, Jawa Tengah, telah membuat lumbung pangan mandiri.

“Ini menjadi ide yang baik karena ada antisipasi agar tidak ada kejadian kelangkaan pangan, terutama di sekitar daerah dia tinggal,” tegasnya. (mht)