Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran Lakukan Digitalisasi

oleh
oleh

SOLO – Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran Solo mencoba melakukan alih media untuk menjaga warisan budaya leluhur. Langkah yang ditempuh adalah dengan melakukan digitalisasi.

Rekso Pustoko didirikan pada tanggal 11 Agustus 1867 di masa pemerintahan KGPAA Mangkunegoro IV. Nama Rekso Pustoko berasal dari kata Rekso yang berarti penjagaan, pengamanan, dan pemeliharaan. Sedangkan Pustoko berarti tulisan, surat-surat, dan buku.

Saat ini, jumlah keseluruhan koleksi naskah dan buku kurang lebih 6.000 judul. Naskah tertua yang dimiliki Rekso Pustoko adalah Serat Menak berasal dari Bali berbahasa Jawa, berhuruf Jawa, dan ditulis di atas lontar.

INFO lain :  60 Warga Desa Belerante Klaten Mengungsi Akibat Dampak Merapi

Koleksi khas yang lain adalah karya luhur dari Mangkunegara IV yakni Serat Wedhotomo, Serat Tripomo, Serat Woroyagyo, dan Serat Laksita Raja.

Kepala Perpustakan Rekso Pustaka Puro Mangkunegaran Darweni menjelaskan terdapat sekitar 11 ribu dokumen bersejarah berupa manuskrip, arsip tekstual serta jenis buku lainnya di Rekso Pustoko, namun sayang sebagian besar dokumen penting tersebut banyak termakan usia hingga mengalami kerusakan.

INFO lain :  Warga Wonogiri Gantung Diri di Pohon Cengkeh Samping Rumahnya

“Koleksi kita ada sekitar 11 ribu berbagai macam, ada manuskrip, arsip kontekstual, dll, sebagian memang sudah ada yang rusak,” katanya, Jumat (14/2).

Menurut Darweni, setiap lembaran kertas hanya memiliki masa guna sekitar 50 tahun, sedangkan berbagai dokumen di Rekso Pustoko hampir seumur dengan awal perpustakaan dibangun.

INFO lain :  7 Pelaku Narkoba DItangkap. Ada yag Abis Pesta Sabu, Adapula Suporter Persis

“Memang dokumen disini sudah cukup lama, bahkan ada yang sudah ada sejak perpustakaan ini berdiri, jadi memang sebagian kertasnya sudah rapuh dan harus hati-hati memakainya, itu memang usia, rata-rata usia kertas itu kan cuman 50 tahun,” tandasnya. (mht)