Jakarta – Kredit macet yang terjadi di Bank Jateng Cabang Jakarta kini totalnya mendekati angka Rp 1 triliun. Melihat kondisi itu, Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto mengaku sangat menyayangkannya.
Asfirla mengatakan, pihak Bank lateng Cabang Jakarta tiak bersikap terbuka dalam pelaporan keuangan saat Komisi C melakukan monitoring dan evaluasi pada Maret lalu.
Pada bulan itu, kata Bogi sapaan akrab Asfirla, laporan laba pasa 2018 lalu sekitar Rp 81 miliar dan tidak ada laporan kredit macet. Namun setelah itu, Komisi C mendapat info terdapat fraud nyaris Rp I triliun.
“Jujur, saya menyesalkan sikap tidak terbuka itu. Mohon dijelaskan upaya-upaya yang ditempuh untuk memperbaiki kondisi tersebut dan hasilnya seperti apa,” kata Politikus PDl Perjuangan sedikit mesal, saat berkunjung ke Kantor Bank Jateng Cabang Jakarta untuk mengevaluasi kinerja perbankan, Jumat (4/10/2019).
Senada, Anggota Komisi C DPRD Jateng Bambang Eko Pumomo meminta data lengkap dan skema kredit yang macet. Selain itu, nasabah/ korporasi apa saja yang telah memicu kredit macet.
”Dapat dipastikan analis kreditnya tidak bekerja atau bisa jadi ada kredit fiktifnya,” ujar Legislator Partai Demokrat itu.
Sementara, Anggota Komisi C Baginda Muhammad Mahfuz menilai data yang disajikan terkesan ingin ‘menyamarkan’ Komisi C.
“Lihat halaman 12, Bank Jateng Cabang Jakarta per September meraih dana Rp 2,3 triliun, seolah-olah tidak ada kredit macet,” kata Politikus dari Fraksi PDl Perjuangan itu.
Bahkan, Anggota Komisi C Maria Tri Mangesti menyayangkan laporan yang disajikan tidak dilengkapi neraca rugi laba.
”Tolong, neraca rugi labanya sehingga kami bisa merunut dan mengevaluasi sebagai bagian dari pengawasan Komisi C,” tuturya, yang juga berasal dari PDI Perjuangan itu.
Dalam hal ini, Kepala Cabang Bank Jateng Jakarta Martono mengaku saat ini ada kredit macet hampir senilai Rp 1 triliun. Ia sendiri ditugaskan untuk membenahi semua permasalahan tersebut.
”Kami sudah menyelesaikan sejumlah upaya recovery, baik pendekatan ke debitur maupun upaya penjualan aset termasuk klaim dari penjamin kredit. Sampai dengan terakhir, yang macet tinggal Rp 492 miliar,” ungkap Martono, sembari menambahkan mantan pemimpin cabang sebelumnya sudah dikenai sanksi dan kini proses hukum sedang berjalan.
Data Bank Jateng Cabang Jakarta menyebutkan, per Februari 2019 pasca meraih laba Rp 89 miliar pada tahun sebelumnya. Bank Jateng Cabang Jakarta sudah merugi Rp 14,2 miliar. Rasio kredit bermasalah saat itu sudah di angka 2,48% (Desember 2018 baru 1,08%). Kerugian terus membengkak hingga Rp 342,48 miliar (September 2019) dan rasio kredit bermasalahnya melonjak ke 17,407 persen.
Sumber dprdjateng.prov















