Tegal – Pemasangan panghung riging diatas kayu didalam Arena Tetaer Budaya Tegal (TBT) dianggap pelecehan terhadap kesakralan teater arena.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi I DPRD Kota Tegal, Jawa Tengah, H Sisdiono Achmad menyikapi persoalan pemasangan panggung riging di dalam TBT yang mendapat protes keras oleh para seniman terutama Dewa Kesenian Kota Tegal (DKT).
Sisdiono menyampaikan, teater arena itu dirancang untuk pementasan dalam ruangan (in door) lantainya berbahan dari kayu, sekaligus berfungsi sebagai panggung. Maka kalau dipasang riging bakal rusak, akan tergores gores dan akan mengganggu pemakaian atau pementasan berikutnya.
“Saya yakin pihak pengelola tidak tahu fungsi teater arena sehingga mengijinkan pemasangan panggung riging. Sebagai orang yang ngerti teater arena pemasangan panggung riging itu saya anggap pelecehan terhadap kesakralan teater arena,” tegas Sisdiono, Minggu (16/12/2018).
Sisdiono berharap ini tidak terulang lagi. Jangan karena tergiur uang sewa dan untuk memenuhi target pemasukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tegal sembarangan menyewakan teater arena.
“Komisi I DPRD Kota Tegal telah menghapus target pendapatan teater arena karena menghormati para seniman seniman,” tuturnya.
Beberapa sumber DKT menyatakan, sangat prihatin atas persoalan riging yang dipasang atas panggung kayu di arena TBT, yang lebih miris untuk sewa pemakaian TBT yang dikenakan hanya Rp 2 juta.
Diberitakan sebelumnya, para seniman Kota Tegal (DKT), memprotes pemakaian panggung riging diatas lantai kayu didalam Arena TBT yang digunakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) Family Festival 2018, hari Sabtu (15/12/2018) lalu.
Terkait persoalan tersebut, pengelola TBT, Sri Hartati yang juga Kasi Seni Budaya Disdikbud Kota Tegal, tidak mtau berkomentar saat dikonfirmasi.
“Maaf saya ndak bisa coment, nanti ndak malah salah,”kata Sri Hartati singkat.
(nin/dit)
















