Brebes – Dinas Pengairan Sumber Daya Air dan Tata Ruang (PSDA Taru) Kabupaten Brebes menyatakan, lebih dari 200 titik tanggul dalam kondisi kritis. Titik tanggul kritis itu tersebar di semua sungai yang ada di wilayah Brebes.
Kerusakan tanggul yang terjadi mulai dari elevasi permukaan yang amblas sehingga permukaan tidak rata, sampai badan tanggul yang mengalami longsor.
Kabid Konservasi Sumber Daya Air Dinas PSDA dan Taru Brebes mengungkapkan, dari pemetaan, terdapat beberapa titik tanggul di dua sungai yang memerlukan perhatian khusus. Masing-masing Sungai Pemali dan Cisanggarung.
“Semua ada 200 titik lebih di seluruh sungai yang ada di Brebes,” ujarnya, Senin (19/11).
Data di Dinas Pengairan Sumber Daya Air dan Tata Ruang Brebes menyebut tanggul Sungai Pemali mulai dari bendung Notog hingga muara, ada 28 titik kerusakan yang perlu segera ditangai secara permanen. Tanggul sungai yang kondisinya kritis ini antara lain berada di Desa Wanasari, Terlangu, Pulosari, Sidamulya, Tengki dan beberapa desa lainnya.
Untuk sungai Cisanggarung, lokasi tanggul kritis berada di Desa Bojongsari, Randusari, Babakan, Bantarsari, Jatisawit dan Karangsambung. Di antara lokasi itu, Mulyadi menyebut, tanggul yang perlu diwaspadai ada di Bantarsari, Karangsambung dan Jatisawit. Di mana tanah tanggul di desa longsor sehingga bada tanggul menjadi tipis.
Sejauh ini, penanganan terhadap tanggul kritis tersebut baru sebatas penanganan darurat. Di sejumlah tanggul kritis di Pemali, penanganan hanya dilakukan dengan menambal tanggul dengan karung yang berisi tanah.
Demikian pula di Sungai Cisanggarung, penanganan dilakukan dengan cara yang sama. Akan tetapi di beberapa titik ada yang ditangani dengan menggunakan bioenginering.
Sementara diakui, belum maksimalnya penanganan tanggul karena minimnya anggaran. Kendala lain tidak adanya alat berat di dinas teknis.
“Sebenarnya masalah tanggul ini sudak diajukan anggarannya ke provinsi maupun pusat, tapi lagi-lagi terbentur minimnya anggaran,” ungkapnya.edit
















