Cilacap – Kemarau di wilayah Kabupaten Cilacap menjadikan sejumlah daerah mengalami krisis air bersih. Kondisi itu semakin meluas. Permintaan air bersih dari desa-desa kekeringan pun terus bertambah.
Sementara atas permintaa pasokan itu, persediaan air bersih yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap tidak mencukupi.
Kepala BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan, pihaknya menyiapkan sekitar 100 tangki air bersih untuk menghadapi musim kemarau tahun 2018 ini. Namun jumlah itu diakuinya tak mencukupi karena kemarau lebih panjang.
“Hingga pertengahan Oktober 2018 ini, sudah distribusikan sekitar 380 tangki,” katanya, kemarin.
Menurutnya, sebanyak 45 desa yang tersebar 14 kecamatan di Kabupaten Cilacap terdampak kekeringan hingga Oktober ini. Masing-masing di Kecamatan Kawunganten, Kampunglaut, Cipari, Kroya, Kedungreja, Bantarsari, Patimuan, Gandrungmangu, Adipala, Karangpucung, Jeruklegi, Dayeuhluhur, Wanareja, dan Nusawungu.
“Kami masih menggandeng swasta untuk berpartisipasi. Perhotelan, Korpri, Perusda, PLN, banyak yang sudah membantu, kata dia.
Di sisi lain, sebanyak 15.933 kepala keluarga yang atau 51.060 jiwa telah menerima bantuan air bersih ini dengan jadwal pengiriman bergilir. Meski kekeringan terus meluas, Komara mengklaim, pada tahun 2018 ini jumlah desa kekeringan berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Terutama tahun 2015 lalu.
Musim penghujan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, termasuk Kabupaten Cilacap diperkirakan mundur dari waktu normal karena pengaruh fenomena El Nino. Prakirawan BMKG Pos Pengamatan Cilacap, Rendy Krisnawan menjelaskan, Elnino merupakan fenomena di mana suhu permukaan air laut di wilayah Indonesia lebih dingin dibanding kondisi normal.
“Sedangkan suhu permukaan air laut di wilayah samudera Pasifik lebih hangat dibanding normalnya,” jelas dia.edit
















