Kapolda Jateng Ingatkan Bahaya Politik SARA

oleh

Semarang – Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono mengingatkan bahaya politik SARA pada Pemilu April 2019 mendatang. Kampanye model itu diwaspadai terjadi lewat media sosial dan sangat rawan.

Hal itu diungkapkannya saat Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dalam rangka Kesiapan Pemilu 2019 di Patra Convention Hotel, Rabu (12/9/2018).

Irjen Pol Condro Kirono menyampaikan, banyaknya calon yang akan dipilih berpengaruh pada tingkat kerawanan yang lebih tinggi dibanding pemilu sebelumnya.

Pihaknya mengaku sudah memetakan, setidaknya ada delapan titik kerawanan. Mulai dari pendaftaran calon, penetapan calon, tahap kampanye, pemungutan suara, hingga pengesahan pasangan calon terpilih.

INFO lain :  ​KPU Tegal Evaluasi Pelaksanaan Pilkada Serentak

Titik rawan yang paling diwaspadai sebelum pemungutan suara, sambung Condro, adalah masa kampanye. Sebab, biasanya diwarnai gerakan antarpendukung yang arahnya seringkali negatif, money politic, dan black campaign yang mengangkat isu SARA dan hoaks. Apalagi yang disampaikan melalui media sosial.

“Yang paling dinamis, berpotensi ramai sekali adalah di media sosial. Setiap ada berita, komennya dari kelompok pemilih A dan B. Itu komennya macam-macam,” tuturnya sebagaimana dikutip di jatengprov.go.id.

Kapolda berpendapat, sangat berbahaya ketika akun-akun medsos tersebut mulai mengangkat isu SARA. Kapolda meminta Kapolres, Dandim, Bupati/ Wali kota mewaspadainya.

INFO lain :  689 Kali Salah Tranfer, Bank Jateng Baru Koreksi Rekening Nasabah

Sebab, apapun kejadiannya bisa dipolitisasi dan kemudian diangkat menjadi isu SARA. Jika sudah terjadi, segera ambil langkah.

“Suasana yang menghangat, jangan sampai membuat kita ikut terbakar. Kita harus menjadi cooling system, radiatornya. Dinginkan terus. Jangan sampai pilihan lima tahun sekali merusak silaturahmi, pertemanan dan persaudaraan,” ajaknya.

Cooling system tidak hanya dilakukan oleh penyelenggara pemilu, aparat keamanan dan pemerintah. Tapi juga partai politik, pasangan calon, partai pengusung dan pendukungnya. Masing-masing bakal calon mesti menanamkan mental siap menang dan kalah.

INFO lain :  Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel Mulai Menjabat Kapolda Jateng

“Statement-statementnya mendinginkan suasana. Kalau memanaskan, saya mohon tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kita semua yang harus tidak kalah untuk mendinginkan. Media juga harus dukung,” pintanya.

Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah selaku tokoh masyarakat, Ali Mufiz menyambung, pemilu bukan persoalan hidup dan mati. Pemilu adalah persoalan linier untuk lima tahun yang akan datang.

Menurutnya, gagasan cooling system dari Kapolda sangat diapresiasi. Dia juga berpesan agar para calon menunjukkan kesantunan, baik secara verbal maupun tulisan.