Duet Tentara-Ulama: Komodifikasi Agama dan Demokrasi ‘Jadul’

oleh

Sementara itu, dihubungi terpisah Hamdi Muluk menyoroti cara ‘jualan’ pasangan Prabowo-Somad atau Prabowo-Salim Segaf yang mengedepankan titel tentara (TNI) dan Ulama sebagai koalisi kebangsaan dan keumatan.

Menurutnya, demokrasi modern tak mengenal latar belakang seseorang untuk jadi pemimpin.

Hamdi mengaku, sejak dulu dirinya kurang sreg dengan dikotomi calon Jawa-luar Jawa, Islam – Non-Islam, militer – sipil, atau yang bersifat kedaerahan.

“Demokrasi modern itu ya pokoknya siapa orang yang punya rekam jejak, bisa mengurus republik ini, punya konsep, gagasan, mau dari mana pun datangnya. Mau dari Islam, Kristen kita NKRI. Mau luar Jawa kek, Papua kek, enggak ada urusan. Mau ulama kek, jangan buat wacana wacana seperti itu,” kata Hamdi.

INFO lain :  Korupsi Dana Desa Sidorejo Pekalongan Pak Kades Tilep Rp 170 Juta

Hamdi mengatakan identitas bahkan status sosial seseorang sebaiknya tak jadi latar untuk memilih calon pemimpin. Sebaiknya, masyarakat yang cerdas dan melek demokrasi dinilainya justru akan menilai dari program, latar belakang kepemimpinan, ideologi, serta rekam jejak.

“Begitu juga Somad. Dia, da’i apa urusannya dengan negara, punya enggak dia track record itu (politik)? Itu yang mesti dikritisi, bukan terjebak pada narasi seperti itu kombinasi TNI-Ulama,” tutur penulis buku Mozaik Psikologi Politik Indonesia tersebut.

INFO lain :  PDIP Solo Menolak Keinginan Purnomo. Tetap Diberi Mandat Maju Pilwalkot

Hampir senada pernyataan Wawan, sosok Salim Segaf maupun Abdul Somad tak lantas bisa diidentikkan bahwa mereka mewakili kelompok ulama. Pasalnya, ulama itu tak bisa didefinisikan dalam kategori tunggal.

Di Indonesia, ahli agama tak hanya datang dari satu kelompok saja. Jika dibagi berdasarkan organisasi kemasyarakatan (ormas), maka ulama di Indonesia beberapa di antaranya ada yang berasal dari Muhammadiyah, Nadhlatul Ulama, AL Irsyad Al Islamiyyah, Al Ittihadiyah, dan Forum Umat Islam.

INFO lain :  "Bajo" Disebut Hanya Calon Boneka. Apa Kata Mereka?

Hamdi menerangkan ketika suatu koalisi mendorong sosok yang mereka sebut ulama untuk menjadi calon pemimpin, itu bisa dipastikan berasal dari kelompoknya sendiri bukan lawan.

“Orang orang yang punya kepentingan itu iya lah pilih ulama dari golongan ini [kelompoknya sendiri]. Dia punya kepentingan di situ,” kata Hamdi.

(kid/edit)

Sumber https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180731074115-32-318248/duet-tentara-ulama-komodifikasi-agama-dan-demokrasi-jadul