Brebes (Infoplus) – Hujan deras dan banjir bandang yang terjadi di Brebes menjadikan jembatan penghubung di Desa Wlahar, Kecamatan Larangan hanyut. Kondisi itu menjadikan akses warga terganggu karena kesulitan menyeberang.
Kondisi itu dirasakan sejumlah warga, salah satunya beberapa pelajar di desa setempat. Mereka yang setiap hari harus berangkat ke sekolah itu direpotkan, karena harus menyeberangi sungai. Setiap hari mereka harus menyeberangi sungai berarus deras untuk menuju ke sekolah.
Akibat putusanya jembatan, mereka terpaksa menyeberang menggunakan perahu kecil atau rakit. Memuat belasan orang, mereka harus rela bergantian untuk menyeberangi sungai yang dalam dan deras arusnya.
“Tiang jembatan tergerus air saat banjir tahun kemarin sehingga roboh sebelum rampung dikerjakan. Lokasi disini memang unik karena ada penyempitan sehingga air sungai menjadi deras dan dasar sungai menjadi dalam,” kata Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum (PU), Brebes, Dani Asmoro, kemarin.
Dikatakannya, bangunan jembatan Kedungabad roboh karena tersapu banjir bandang. Alur sungai di daerah ini terjadi penyempitan sehingga menimbulkan arus yang deras.
Pada tahun 2018 ini pemerintah merencanakan akan membangun kembali jembatan di daerah Kedungabad Desa Wlahar senilai Rp 1,5 miliar. Jembatan sepanjang 48 meter dengan lebar 2,5 meter ini akan segera dilelangkan dalam waktu dekat.
Desa Wlahar, merupakan desa yang letak secara geografi berada di antara aliran sungai Pemali. Desa di ujung Kecamatan Larangan ini terdiri dari 5 dusun yang terpisah oleh sungai besar di Brebes. Setiap musim kemarau warga di Dusun Kedungabad itu bisa membuat jembatan darurat di tengah sungai. Namun bila musim penghujan harus pakai perahu dan sering banjir.
Para palajar di Desa Wlahar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes itu setiap hari harus menyeberangi sungai berarus deras untuk menuju ke sekolah. Ketiadaan jembatan penyeberangan di desa itu karena telah hanyut saat banjir bandang tahun 2017 lalu membuat warga, hingga kini harus menderita.
“Warga membutuhkan jembatan agar akses warga lebih mudah dan aman. Saat ini warga mengandalkan perahu kecil yang sebenarnya rawan hanyut terseret derasnya air sungai,” kata seorang warga, kemarin.
Perahu kecil adalah satu-satu sarana alat penyeberangan. Perahu itu yang dipakai tiap hari oleh mereka yang hendak ke luar desa termasuk anak anak sekolah.
“Tidak ada jalan lain sih, harus lewati sungai ini. Kalau kemarau sih tidak masalah, tapi kalau hujan sering banjir bandang,” ujar Risna, salah seorang pelajar di Larangan.
Warga dan pelajar menyadari, menggunakan perahu kecil sebagai tempat penyeberangan sangat berisiko terhadap keselamatan. Derasnya aliran sungai bisa menyebabkan perahu hanyut, terutama bila debit air meningkat. Saat hujan, air sungai ini bertambah banyak dan sewaktu waktu terjadi banjir bandang.
Mereka mengakui hal itu menjadi kesulitan dalam mereka beraktivitas. Khususnya saat musim hujan dan arus sungai yang deras. Mereka harus ekstra hati-hati saat menyeberang karena mereka berani bertaruh nyawa untuk mengakses lokasi sekolahnya.
“Sementara bagi sebagian warga lain, lebih memilih sekolah di Kecamatan Songgom yang lebih aman,” ungkap Ketua Karang Taruna Desa Wlahar, Eko Dardirjo.edi
Taruhkan Nyawa, Terpaksa Naik Rakit Menuju Sekolah Karena Jembatan Hanyut
















