Selain itu, dibahas juga mengenai sektor pertahanan dan keamanan negara. Terkait demo 4 November, Presiden mempersilakan sejumlah elemen masyarakat yang berencana menggelar unjuk rasa. Namun Presiden mengingatkan pengunjuk rasa tidak memaksakan kehendak dan tidak berbuat anarkistis. ”Demonstrasi adalah hak demokratis setiap warga. Silakan! Boleh saja mau demonstrasi.
Namun yang terpenting, jangan memaksakan kehendak atau merusak, anarkis. Ini yang tidak boleh.” Dalam kunjungan tersebut, Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Sebelumnya, saat menghadiri acara Hari Menabung Nasional di Jakarta Convention Center (JCC).
Presiden menegaskan, dirinya ada di Tanah Air. ”Tanggal 4 November, Presiden ada di Indonesia,” tegasnya. Menanggapi perbincangan di media sosial yang dikeluhkan sejumlah pihak, Presiden Jokowi mengatakan, berbicara di media sosial juga hak demokratis. Namun dia kembali mengingatkan, ada batas-batasnya, ada etikanya, ada sopan santun. ”Juga ada undang-undang yang mengatur itu. Hati-hati,” tuturnya.
Pertemuan antara Presiden dengan Prabowo Subianto dinilai pengamat politik yang Direktur Eksekutif Riset Indonesia, Toto Sugiarto sebagai langkah antisipasi sekaligus meredakan tensi. “Iklim politik DKI memanas sejak Ahok menyinggung Al Maidah ayat 51. Semua pihak harus menjadikan kekhawatiran Ketua DPR atas demo 4 November mendatang sebagai ‘warning’ untuk saling menjaga kondisi,” kata Toto kepada Suara Merdeka, kemarin. Langkah Jokowi menemui Prabowo adalah tepat.
Mengingat politikus Gerindra di DPR seperti Fadli Zon selama ini sering menyerang pemerintahan Jokowi. Fadli bahkan menyatakan akan ikut demo pada 4 November. ”Selain itu pertemuan ini juga dapat dilihat sebagai upaya Jokowi merangkul Prabowo untuk bersama-sama menjaga stabilitas politik demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara.
Dari pihak-piak yang ingin mengambil untung dari kerusuhan dan ketidakstabilan,” kata dia. Dalam pernyataan persnya, Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman mengatakan, ada yang menarik di balik pertemuan Jokowi dengan Prabowo.
Lebih menarik adalah hal ini dilakukan di tengah gagalnya berbagai program yang dicanangkan pemerintah serta adanya rencana pemerintah yang akan kembali menambah utang sebesar Rp 20 triliun. Menurut Jajat, pertemuan kali ini semakin menunjukan sosok pak Prabowo sebagai tokoh penting di negara ini.
















