Semarang – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko mendukung pelestarian Tari Ndolalak yang sempat menjadi kontroversi sebagai warisan budaya dari Kabupaten Purworejo.
“Jika kita tidak memelihara kebudayaan yang kita miliki, bisa jadi kebudayaan kita menghilang dan diakui negara lain,” katanya secara daring pada acara Dialog Kebudayaan dan Pagelaran Tari Ndolalak di Hotel Sanjaya, Kabupaten Purworejo.
Politikus Partai Gerindra itu menegaskan, Indonesia memiliki kebudayaan yang cukup banyak dan beragam, namun tidak semua generasi muda paham dan mengerti keberagaman budaya asli Indonesia, dan justru mengkagumi bahkan memuja budaya luar yang dia nilai tidak bernilai nasionalisme.
Ia menyebutkan dalam ikrar Sumpah Pemuda dijelaskan bahwa putra putri Indonesia siap bertanah air, berbangsa dan Berbahasa Indonesia.
“Dari ikrar Sumpah Pemuda yang membahas tentang Tanah Air, sudah jelas jika Tanah Air kita Tanah Air Indonesia. Indonesia kaya akan budaya, namun jika kita tidak memeliharanya, serta berusaha melestarikan, dikhawatirkan kebudayaan kita akan hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Heri mengharapkan budaya dan seni tradisional yang ada di Jawa Tengah tetap lestari agar generasi muda dapat merasakan, mengenal, dan mengetahui kebudayaan asli Indonesia.
“Lestarikan budaya kita sebagai wujud syukur kita kepada Sang Maha Pencipta, berikan hak-hak anak cucu kita berupa budaya yang mendidik sesuai dengan falsafah dan histori bangsa Indonesia, untuk kelangsungan hidup segenap komponen nusa dan bangsa,” katanya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri pelaku seni tari Krisyanti Tri Astuti, dan Pemerhati Budaya Kabupaten Purworejo Verra Anggraeni Purwaningrum.
Verra menambahkan kesenian tradisional merupakan salah satu sarana hasil dari cipta rasa dan karsa manusia sehingga kesenian tradisional juga bisa menjadi suatu identitas tersendiri dari daerah tersebut.
Sebagai contoh Tari Ndolalak yang merupakan identitas kesenian masyarakat Kabupaten Purworejo dan sekitar, yang tidak dimiliki oleh daerah lain.
Ia menjelaskan bahwa Tari Ndolalak merupakan sejarah dari Kabupaten Purworejo dan beberapa daerah sekitar yang menggambarkan tentang perilaku serdadu kolonial Belanda ketika beristirahat “camp” saat masa penjajahan.
Pada saat istirahat itu para serdadu Belanda kemudian melakukan pesta dan berdansa yang aktivitas tersebut kemudian ditiru oleh orang pribumi dan terciptalah gerakan sederhana dan berulang-ulang yang kemudian dinamakan tari Ndolalak.
“Nama Ndolalak diambil dari tangga nada ‘do’ dan ‘la’ karena awalnya tarian ini hanya diiringi dua nada tersebut,” katanya.
Sementara itu, pelaku seni Ndolalak yang juga hadir di acara itu Krisyanti Tri Astuti mengakui jika Tari Ndolalak memang sempat menjadi kontroversi karena dianggap sebagai tarian erotis, bahkan beberapa kalangan sempat melarang penampilan kesenian tradisional ini.
Hal itu karena kostum yang dikenakan para penari, banyak meniru seragam para serdadu Belanda yang sedang pesta yang tentu eksotis.
“Namun saat ini, penari Ndolalak sadar, saat menarikan di depan anak-anak ataupun kelompok agama, mereka mengenakan celana yang sopan hingga menutup lutut. Ini untuk menyesuaikan dengan norma yang ada, namun dalam pentas umum, tetap menggunakan kostum yang memang jadi ciri khas tarian ini,” ujarnya.
Sumber Antara















