SOLO – Pemkot Surakarta tidak memaksakan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) pada awal 2021.
Pasalnya, hingga saat ini jumlah kasus positif COVID-19 di daerah itu terus meningkat.
“Kesiapan pembelajaran tatap muka pada awal 2021 saya nilai belum sepenuhnya (siap),” ujar Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Senin (23/11).
Menurut Rudy hak yang utama adalah menyelamatkan generasi penerus bangsa, anak sekolah.
“Kalau belum layak dan belum berani pembelajaran tatap muka, ya jangan dulu,” sebutnya.
Mengenai uji coba pembelajaran tatap muka yang sudah dilakukan pada siswa kelas IX SMP beberapa pekan terakhir ini, Rudy mengatakan ada satu siswa yang reaktif usai menjalani tes cepat.
“Yang bersangkutan tidak diperbolehkan masuk, kalau hanya satu itu ya tetap kami lanjutkan (uji coba pembelajaran tatap muka),” jelasnya.
Dia menambahkan, jika memang masyarakat mengizinkan pembelajaran tatap muka maka juga harus tanggung jawab.
“Salah satunya proses penjemputan (dilakukan oleh orang tua masing-masing siswa) karena harus seperti ini. Memang cukup berat,” bebernya.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dwi Ariyanto mengatakan akan mengkaji ulang penambahan kelas pada uji coba pembelajaran tatap muka.
Hal tersebut dilakukan karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
“Harapannya mulai Desember tambah kelas, tetapi kelihatannya belum menemukan solusinya,” terangnya.
Dia mengatakan pada praktiknya untuk menjalankan proses pembelajaran tatap muka mulai dari siswa masuk hingga pulang sekolah dibutuhkan jumlah SDM dua kali lipat dari yang biasanya.
Menurut dia, jika penambahan kelas pada jam yang sama sulit dilakukan, maka ada kemungkinan siswa kelas VIII akan mengikuti pembelajaran tatap muka di jam berbeda.
“Jika pembelajaran tatap muka dilakukan dengan selisih satu jam, diperkirakan akan lebih kondusif,” tandasnya. (rta)
















