“Isi punjungan tersebut berupa nasi, daging ayam, dua telur rebus, bakmi dan sambel goreng. Kemudian malam harinya korban memakan punjungan itu, setelahnya mereka tidur,” kata Jusuf saat dihubungi detikcom, Kamis (22/2/2018).
Para korban baru merasa aneh saat mereka bangun tidur, Kamis (22/2) pagi. Ketujuh orang ini kepalanya terasa pusing dan perutnya mual, bahkan ada beberapa korban yang muntah-muntah dan mengalami diare.
“Sama warga ketujuh korban tersebut dibawa ke Puskesmas Playen 1. Sama tim medis Puskesmas Playen 1 para korban dinyatakan suspect keracunan makanan,” paparnya.
Dari ketujuh korban, lanjut Jusuf, enam di antara yakni Siti Wahidatun (37), Khamdani (37), Setyo Budi Wibowo (27), Subhan Khoirul Anwar (14), Maratu Sholekah (29), kelimanya warga Desa Ngawu dan Jumarti (50) warga Desa Getas harus dirawat di puskesmas.
Sementara satu korban lainnya, yakni Tuji (56), warga Desa Getas yang diperbolehkan pulang tetapi tetap menjalani perawatan.
“Kondisi terakhir keenam korban sudah membaik,” ungkapnya.
Atas kejadian ini, polisi telah mengamankan sejumlah makanan dari punjungan, salah satunya dua potong daging ayam. Kandungan di dalam makanan tersebut saat ini masih diperiksa petugas.
“Makanan dan muntahan korban sudah dikirim ke BPOM. Untuk hasilnya kami masih menunggu sampai empat belas hari ke depan,” pungkas dia.
Kepala Puskesmas Playen I, Jolanda Barahama menambahkan bahwa pada awalnya ada 10 orang yang mereka rawat karena keracunan makanan. Selain tujuh orang di atas, 3 orang lainnya yakni Setyo Budi Wibowo (27), Marjinem (76), dan Nurafandi (12).
“Kemungkinan ada infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang terkandung dalam makanan itu,” paparnya saat ditemui wartawan di puskesmas.
Sampel makanan yang diduga mengandung bakteri tersebut, saat ini telah dikirim ke laboratorium di Yogyakarta untuk diteliti. Oleh sebab itu, pihaknya belum bisa memastikan penyebab keracunan, karena pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium tersebut.
















