Dosen dan pengamat budaya dari Seni Rupa Unnes, Rahman Athian, menyebut gagasan museum kartun sangat relevan dengan perkembangan kebudayaan visual kontemporer.
“Museum kartun bukan hanya soal ruang pamer, tetapi ruang pengetahuan. Ia bisa menjadi laboratorium kebudayaan yang menggabungkan seni, sejarah, dan teknologi digital,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Septa Miyosa, kartunis dan dosen Yogyakarta, yang menegaskan pentingnya kegiatan ini untuk memperluas jangkauan kartun Indonesia di dunia internasional dan edukasi visual.
“Ini bukti bahwa kartunis Indonesia tidak kalah di panggung dunia. 141 kartunis dari 25 negara hadir di Semarang — ini kebanggaan kita semua,” katanya.
Tokoh arsitek nasional yang juga kartunis sekaligus akademisi UIN Walisongo Semarang, Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng., turut menyampaikan dukungannya terhadap gagasan pendirian Museum Kartun Indonesia dan penyelenggaraan Semarang Cartoonfest di kawasan Kota Lama.
“Gagasan Museum Kartun Indonesia di Semarang sangat tepat, baik secara kultural maupun arsitektural. Kota Lama sebagai kawasan heritage memberi konteks sejarah yang kuat bagi kelahiran museum ini. Arsitektur dan kartun sama-sama berbicara tentang ruang dan narasi kehidupan manusia — ini kolaborasi budaya yang menarik dan visioner,” ujar Prof. Totok.
Beliau menilai bahwa museum semacam ini akan memperkaya wajah Kota Lama Semarang sebagai pusat kreativitas urban yang berpijak pada sejarah dan keterbukaan budaya.
Ajang Budaya, Pariwisata, dan Diplomasi Kreatif
Dengan rangkaian kegiatan yang padat dan lintas disiplin, Semarang Cartoonfest 2025 bukan sekadar festival seni, tetapi juga wujud diplomasi budaya yang mengangkat Semarang sebagai kota seni dan kebudayaan dunia.
Masyarakat umum, pelajar, seniman, dan wisatawan diundang untuk mengunjungi
pameran kartun internasional di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, selama 2 hari pada 18–19 Oktober 2025, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Acara ini terbuka untuk umum, gratis, dan menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan humor, kritik sosial, dan keindahan visual kartun dunia serta bergabung dalam workshop dan lomba kartun di arena festival. (BHP/Ts).
















