Nasabah BRI Pekalongan Keluhkan Tabungan Diblokir Sepihak

oleh
tabungan nasabah BRI diblokir
Nasabah BRI Pekalongan, SGT menunjukkan buku tabungan yang rekeningnya tidak bisa diakses hingga kini.

PekalonganINFOPlus. Seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Pekalongan, berinisial SGT (42), keluhkan tabungan miliknya diblokir sepihak. Ia menduga menjadi korban penyelewengan praktik perbankan.

Kasus diblokirnya rekening nasabah BRI Pekalongan ini berawal dari keterlambatan pembayaran angsuran Kredit Usaha Rakyat (KUR). SGT telat satu bulan atau satu kali angsuran.

Kronologinya, pada tahun 2021, SGT mengajukan KUR sebesar Rp 50 juta dan disetujui pencairannya sebesar Rp 45 juta. SGT diwajibkan mengangsur Rp 1,5 juta per bulan selama tiga tahun. Namun, setelah dua tahun berjalan, SGT mengalami keterlambatan satu bulan dalam pembayaran angsuran.

“Pihak bank meminta saya untuk datang ke kantor guna menyelesaikan tunggakan tersebut. Namun, di sana saya justru diminta menandatangani dokumen pencairan baru untuk Kredit Usaha Pedesaan Rakyat (Kupra) sebesar Rp 50 juta dengan angsuran lebih murah, yaitu Rp 1,390 juta selama lima tahun,” ujar SGT, Senin(1/7).

SGT merasa bingung karena merasa tidaj mengajukan pinjaman baru. “Saya diminta tanda tangan tanpa penjelasan yang memuaskan, hanya disuruh tenang karena semua sudah diatur,” katanya.

Karena itu, ia kemudian berinisiatif menanyakan masalah tersebut ke beberapa kantor BRI. Jawaban yang ia dapatkan sangat mengejutkan: rekeningnya ternyata dibekukan dan menjadi urusan Kantor BRI Buaran.

“Saat masih ngangsur KUR, saldo sisa ada Rp 12 juta tidak bisa diambil atau terblokir. Hal yang sama terjadi pada akad kredit baru, uangnya juga tidak bisa diambil,” jelasnya.

Lebih parah lagi, uang transfer dari saudara maupun teman sebesar Rp 3,5 juta dan Rp 1,5 juta juga tidak bisa dicairkan. SGT juga menemukan banyak keganjilan dalam rekening BRI lainnya.

“Pada tahun 2021, terdapat uang masuk sebesar Rp 274 juta, namun ada penarikan sebesar Rp 298 juta tanpa saya ketahui asal-usulnya. Di tahun 2023, terdapat uang masuk Rp 164.729.500 dan ada lagi penarikan Rp 10,7 juta. Banyak transaksi janggal yang membuat saya bingung,” ungkapnya.

Karena merasa takut dan khawatir, SGT meminta bantuan hukum ke LBH Adhyaksa untuk mendampingi dirinya menyelesaikan persoalan tersebut. Angsuran sebesar Rp 50 juta yang tidak ia kehendaki sangat membebani.

“Saya ini pegang buku dan ATM tapi tidak tahu siapa yang menggunakan rekening atas nama saya. Saya juga bingung tercatat sebagai nasabah di kantor BRI Buaran tapi di buku tabungan tercetak Kantor BRI Tirto,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Bank BRI Pekalongan, Purwanto, saat dihubungi melalui sambungan telepon, mengaku belum mengetahui kasus tersebut dan meminta izin untuk mengeceknya terlebih dahulu.