Keterbatasan netra tak halangi warga Penganthi hidupkan malam Ramadhan

oleh

Ia mengaku baru masuk Panti Penganthi tiga bulan lalu, namun sudah pandai membaca Al Quran Braille karena sebelumnya sudah belajar lewat sistem secara daring.

“Saya sudah belajar Al Quran Braille tiga tahun lalu, mulai dari Iqra,” kata pria yang mengalami kebutaan karena kecelakaan kerja ini.

Mujiono yang tidak bisa melihat secara total sejak tahun 2010 ini menjelaskan membaca Al Quran Braille harus meraba dengan jari dan meraba ini kadang kena kadang tidak, sehingga hal itu menyulitkan bagi mereka yang belajar. Tentu hal ini berbeda dengan orang yang bisa melihat.

Saat membaca Al Quran Braille, sebelum mengucapkan kata atau kalimat harus meraba dulu dan memerlukan waktu, karena rasa berbeda dengan visual. Jika melihat bisa langsung merespons, sementara kalau dengan cara meraba itu dari merasakan kemudian dibawa ke otak baru diucapkan, perlu waktu atau tidak bisa secepat orang yang bisa melihat.

INFO lain :  Pegawai KPP Pratama Temanggung Dites Urine

“Sebelum masuk Panti Penganthi saya hanya tinggal di rumah, merasa sendiri dan seolah-olah kebutaan saya ini sedunia hanya saya sendiri. Ketika saya sampai di sini ternyata banyak teman yang senasib,” katanya dalam perbincangan dengan Antara.

Hal tersebut membuat Mujiono merasa bahagia, karena ternyata dia tidak sendirian. Kenyataan itu membuatnya bertambah semangat untuk belajar keterampilan memijat di panti tersebut. Apalagi udara di Temanggung sejuk sehingga membuat dia bertambah betah.

INFO lain :  Cobra dan Betet Tertangkap, Kancil Cs Akhirnya Ikut Tergaruk

Menurut dia selama tinggal di panti juga belajar dari teman-temannya meskipun dari segi umur dirinya paling senior.

Sebelumnya dia merasa ada kesombongan dalam dirinya, merasa sebagai orang paling pandai, ternyata setelah sampai di Panti Penganthi merasa sebagai orang yang paling bodoh, maka perlu banyak belajar lagi kepada teman-temannya, meskipun mereka lebih muda.

Baginya teman-teman di panti juga berfungsi sebagai guru. Proses belajar bukan hanya dari pembimbing, tetapi juga dari teman-teman senasib untuk menimba ilmu terkait dengan bagaimana harus berkomunikasi dan bersosialisasi.

INFO lain :  Polres Wonosobo Gelar Rekontruksi Pembunuhan Seorang Warga oleh Ketua RT Karena Masalah Izin 17-an

Karena kendala penglihatan, hampir setiap hari mereka tabrakan ketika berjalan. Ada yang sampai kepalanya sakit, namun tidak pernah ada yang marah, justru malah tertawa. Itulah pembelajaran yang tidak didapatkannya di luar panti.

Penerima manfaat yang lain Ival Saputra dari Kendal menyampaikan dirinya baru belajar Al Quran Braille sekitar dua bulan, namun dia sudah hafal Al Quran 4 juz.

Sebelum belajar Al Quran Braille dirinya memang sudah hafal dengan cara mendengarkan gurunya saat membaca terus mengikutinya.