“Kalau di Cilacap, pembuatan RDF sampai 28 hari karena sampah organik maupun anorganik langsung dicacah tanpa dipilah,” katanya.
Junaidi mengakui keberhasilan Pemkab Banyumas dalam mengelola sampah telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lainnya.
Bahkan hingga saat ini, kata dia, sudah ada sekitar 80 kabupaten/kota yang melakukan studi banding pengelolaan sampah di Banyumas karena banyak daerah yang sebenarnya telah membangun hanggar pengolahan sampah namun akhirnya mangkrak karena tidak ada yang mengelola.
Menurut dia, pemerintah kabupaten/kota yang melakukan studi banding itu ingin mereplikasikan pengelolaan sampah tersebut di daerah masing-masing.
“Mungkin yang jadi masalah jika di daerah lain tidak ada pabrik semen yang bisa menyerap RDF. Kami ada solusi untuk memecahkan masalah itu, yakni dengan membuat paving,” katanya.
Ia mengatakan pembuatan paving dari limbah itu sudah dilakukan oleh Pemkab Banyumas dan telah dimanfaatkan untuk halaman di sekitar Menara Teratai Purwokerto.
Selain itu, kata dia, Bupati Banyumas juga telah memunculkan inovasi untuk membuat genting dan batu bata dari limbah.
“Batu batanya dibuat seperti dalam permainan lego,” demikian Junaidi.
Sumber Antara
















