Ekspor Produk Kerajinan Pekalongan Capai 7.495.602 Dolar AS

oleh

Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mencatat realisasi nilai ekspor produk kerajinan pelaku usaha mikro kecil dan menengah seperti batik, olahan hasil perikanan, dan sarung palekat sejak Januari hingga akhir April 2022 mencapai 7.495.602 dolar AS.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kota Pekalongan Budiyanto di Pekalongan, Selasa, mengatakan meski mulai 2019 hingga 2022 mengalami masa pandemi namun realisasi nilai ekspor terus meningkat.

“Adapun tujuan ekspor produk kerajinan asal Kota Pekalongan ini dikirim ke sejumlah negara di Eropa, Asia, dan Australia,” katanya.

INFO lain :  Rampok Berpistol Gasak Rp 24,6 Juta di BRI Pasar Merden Banjarnegara

Ia mengatakan pihaknya akan memberikan kiat yang perlu ditekuni untuk melakukan ekspor ada para pelaku usaha pemula di antaranya mengenai kualitas, kuantitas, konjungitas, kepercayaan (trust) pada konsumen di negara yang dituju.

Beberapa produk ekspor asal Kota Pekalongan ke pasar global di antaranya pakaian jadi batik, kain batik, sarang burung walet, olahan hasil perikanan, frozen food, sarung palekat, dan material fibric.

Budiyanto menyebutkan pada 2019 nilai ekspor yang diperoleh dari 21 orang pelaku usaha (eksportir) mencapai sekitar 22.692.392 dolar AS, kemudian pada 2020 naik menjadi 25.173.394 dolar AS, serta 2021 meningkat 30.263.567 dolar AS.

INFO lain :  Pemerintah Kota Tegal Terima LHP dari BPK Perwakilan Jateng

“Ini artinya, ada kenaikan nilai ekspor sekitar 3 jutaan dolar AS. Meski terjadi pandemi, nilai ekspor pada 2021 juga masih tinggi yaitu mencapai 30.263.567 dolar AS,” katanya.

Wakil Wali Kota Pekalongan Salahudin mengatakan seringkali dalam kegiatan ekspor, ada produk ikutan (turunan) setelah suatu daerah dikenal dengan suatu produknya karena konsumen itu beragam dan disesuaikan dengan permintaan pasar.

INFO lain :  Ribuan Orang Iringi Pemakaman Ki Enthus Susmono

Pada saat mereka membeli produk khas suatu daerah, kata dia, konsumen biasanya sekaligus menanyakan produk-produk daerah yang khas lain dari asal negara yang melakukan ekspor.

“Misalnya, Kota Pekalongan yang kesohor akan produk batik namun jika konsumen atau negara tujuan ekspor itu sudah tahu kualitas produk asal daerah atau negara tersebut maka mereka juga akan menanyakan atau membeli produk khas daerah itu seperti kerajinan dari kulit, bordir, craft yang tentu akan ikut terangkat potensinya,” katanya.

Sumber Antara