SEMARANG – Munculnya kabar Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menjadi perhatian sejumlah pihak.
Pengamat Psikologi, T Supriyadi mengaku prihatin atas situasi yang terjadi itu. Menurutnya, pemimpin dan pengikut sama-sama mempunyai paham kebesaran.
“Dalam kondisi ekonomi, politik dan kehidupan sosial yang tuntutannya terlalu tinggi. Masyarakat yang mempunyai pertahanan diri ” dengan mekanisme” yang lemah, cara pikir dan tingkah laku sebagian masyarakat mudah dibelokkan pada suasana masa depan yang lebih baik,” kata dia, Selasa (14/1/2020).
Menurutnya, sebagian masyarakat kita “sedang sakit”, tidak mampu membedakan masa depan yang nantinya bisa menjadi kenyataan atau sekedar opininya digiring pada iming-iming belaka.
“Tentunya kita sebagai bagian dari masyarakat semestinya mampu membawa kembali masyarakat kita yang terlanjur hanyut dalam angan-angan masa depan lebih baik ini. Kembali dibawa pada nuansa kenyataan, dirubah kembali pada kepercayaan untuk menerima fakta dan kenyataan yang sebenarnya,” harapnya.
Pihaknya berharap, aparat keamanan segera bertindak, agar gerakan semacam itu tidak merambah semakin besar dan semakin menyesatkan sebagian masyarakat kita.
“Pihak keamanan harus ekstra hati-hati, karena ini berurusan dengan sebagian masyarakat kita yang masih dalam eufora kesenangan akan janji-janji kehidupan lebih baik di masa yang akan datang. Selain itu, kita juga harus ingat betul bagaimana kasus “Dimas Kanjeng” yang sampai kini menyisakan ribuan permasalahan yang belum tertuntaskan. Ini harus bisa kita jadikan pelajaran,” katanya.
Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).
Keraton Agung Sejagat, dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Sinuwun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu yang memiliki nama Dyah Gitarja.
Berdasarkan informasi, pengikut dari Keraton Agung Sejagat ini mencapai sekitar 450 orang.
Penasihat Keraton Agung Sejagat, Resi Joyodiningrat menegaskan bahwa Keraton Agung Sejagat bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat.
“Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018,” katanya.far















