Pendidikan yang Mencerdaskan Bangsa Penting Digiatkan Lagi

oleh

Jakarta – Dewan Pengurus Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) menggelar diskusi tematik V bertema “ Pendidikan yang Mencerdaskan Bangsa”.

Diskusi dipandu Dr. Tarto Sentono, ST., M.Pd., Wakil Ketua Umum ISRI yang juga Mantan Panitera Taman Siswa Yogyakarta, Sabtu (1/12/2018) di Jakarta.

Dalam paparannya, Tarto mengatakan pendidikan nasional masih jauh dari Pancasila. Pendidikan nasional harus mampu membangun komitmen kebangsaan, setia kepada bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

“Pendidikan nasional haruslah dapat mencerdaskan bangsa dan menjadikan masyarakat Indonesia yang merdeka, mandiri, jujur, berbudi pekerti luhur, tanpa dendam, dan toleran, mempunyai komitmen pribadi dan kebangsaan. Maka oleh karena itu pentingnya pendidikan karakter yang memiliki efek positif sebagai dasar pembentukan kepribadian. Pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk peradaban yang mana fenomena saat ini sangat jauh dari hal tersebut. Misal koruptor tertangkap KPK masih bisa senyum – senyum, sekolah negeri memisahkan ruang parkir antara laki-laki dan perempuan. Kurikulum yang berubah ubah, banyaknya juara di lingkup dunia namun belum ada produksi nasional untuk kehidupan masyarakat sehari-hari terkait teknologi serta sekolah seharusnya tidak berbayar karena merupakan layanan publik negara,” jelas dia.

Ir. Rudianto Handako, IPM, Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia menyampaikan, bangsa yang cerdas yang kuat tehnologinya seperti Korea, China India, Jepang, Jerman, USA.

“Bandingkan dengan negara lain yang mana umumnya dasar inovasi telah ditanamkan sejak usia dini dan untuk mendorong Inovasi perlu iklim yang menyebabkan Inovasi dan Keberpihakan. Iklim ini menjadi penarik Pendidikan Cerdas., misal China, Di tingkat sekolah dasar, hanya diberikan mata pelajaran Bahasa China, Bahasa Inggris dan Matematika. USA, di tingkat sekolah dasar, dikembangkan kerjasama, bukan suasana kompetisi untuk peningkatan. Jepang, di tingkat sekolah dasar, selain kerjasama juga belajar menghargai yang kalah,” ujar dia juga menyampaikan pentingnya pendidikan etika di segala bidang dan sertifikasi kompetensi akan menjadi modal utama bagi dunia kerja.

Pembicara lain, HM. Bambang Sulistomo, S.IP., M.Si., Ketua Yayasan Universitas 17 Agustus Jakarta mengatakan, kuantitas dan kualitas adalah masalah klasik dalam dunia pendidikan nasional. Putra Pahlawan Nasional Bung Tono ini juga mengatakan, bangsa sedang mengalami krisis moral etika, krisis hukum.

“Sehingga diperlukan pendidikan nasional yang menyangkut integritas manusia maka pentingnya pendidikan moral dan etika sesuai pembukaan UUD 1945. Oleh karenanya revolusi mental yang sedang dijalankan harus bersumber dan menyinggung Pembukaan UUD 1945,” ujar pembicara dari Untag Jakarta yang tergabung dalam Perhimpunan Perguruan Tinggi Swasta Nasionalis Indonesia (P2TSNI) ini.

Dr. Soenarto Sardhidatmodjo. MBA. MM, Rektor Universitas Bung Karno menilai, pendidikan nasional belum mampu membangun ke-Indonesiaan-an. Artinya pendidikan nasional masih jauh dari ajaran-ajaran Bung Karno.

“Tiga penyakit yang sedang diderita bangsa yaitu, korupsi, menurunnya keyakinan kepada Pancasila, serta narkoba,” jelas Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Siswa Nasional Indonesia ini mengatakan.edit

INFO lain :  Close Payment System BPJS Kesehatan