Petani Tembakau Tolak Hujan Buatan untuk Padamkan Sindoro-Sumbing

oleh

Semarang – Para petani tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menolak hujan buatan yang menjadi salah satu upaya untuk memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

“Kalau hujan buatan jadi dilakukan maka petani tembakau akan mengalami kerugian hingga puluhan miliar rupiah akibat menurunnya kualitas panen tembakau,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah Wisnu Brata saat dihubungi melalui telepon dari Semarang, Kamis (13/9/2018).

Ia menyebutkan bahwa para petani tembakau di Kabupaten Temanggung akan memasuki masa panen pada akhir Oktober 2018.

INFO lain :  Semua Jalur Pendakian Gunung Sindoro Ditutup Akibat Kebakaran

Menurut dia, pemadaman kebakaran di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing lebih baik menggunakan metode “water bombing” karena air bisa langsung disiramkan ke titik-titik api.

INFO lain :  Gibran Temui Ganjar, Sebut Tidak bahas politik

“Kalau hujan buatan dengan angin yang berhembus kencang seperti sekarang, dikhawatirkan airnya justru kemana-mana dan mengenai tanaman tembakau yang mau dipanen,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwa Pramana menyebutkan bahwa para petani tembakau di Temanggung menolak pemanfaatan kearifan lokal berupa pawang hujan untuk memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Sindoro-Sumbing.

INFO lain :  Pemkab Temanggung Segera Lelang Tiga Jabatan Eselon II

“Saya masih bingung juga, mau mengundang pawang hujan, petani tembakau tidak boleh karena memasuki masa panen,” katanya.

Kerugian akibat kebakaran hutan di lereng Gunung Sindoro-Sumbing diperkirakan sebesar Rp150 juta dengan luasan areal yang terbakar mencapai 542 hektare.

Jumlah kerugian akibat kebakaran tersebut tidak terlalu besar karena yang terbakar hanya tanaman Albasia dan ilalang.

Sumber Antara