Pembangunan Tol Semarang-Demak Berimbas ke PKL dan Nelayan

oleh

Semarang – INFOPlus. Dampak sosial pembangunan jalan tol Semarang-Demak perlu diperhatikan Pemkot Semarang. Para pedagang kaki lima (PKL) dan nelayan bakal terganggu aktivitasnya.

Komisi D DPRD Kota Semarang menilai ada dampak sosial dari pembangunan tol Semarang-Demak. Di antaranya, bakal tergusurnya lahan PKL di sekitar wisata Masjid Syeh Jumadil Kubro, Kaligawe, dan nelayan yang terancam tak bisa melaut.

Sekretaris Komisi D, Anang Budi Utomo meminta keberadaan PKL dipertahankan karena aktivitas
mereka menimbulkan multiplier effect terhadap wisata religi setempat

INFO lain :  Guru Mts di Grobogan Diduga Terlibat Sindikat Uang Palsu Miliaran Rupiah

“Masjidnya memang tidak kena, tapi PKL-nya kena. Kami ingin selamatkan destinasi wisata karena keberadaan PKL juga memberikan multiplier effect,” jelas Anang, Kamis (8/6)

Selain PKL, dampak sosial lain yang bakal timbul adalah terganggunya nelayan saat hendak ataupun pulang melaut. Perahu mereka bakal terhalang oleh tanggul laut.

INFO lain :  Cegah banjir, Pemkab Pati tanam 5.000 pohon di Pegunungan Kendeng

“Hal ini perlu penanganan agar para nelayan bisa tetap bertahan hidup, misalnya dengan beralih profesi,” ujar dia.

Persoalan lain yang perlu diperhatikan Pemkot Semarang adalah permintaan ganti rugi dari warga penggarap. Lahan yang terkena tol memang milik pemkot, hanya saja penggarap ngotot minta ganti rugi.

“Masalah ini sampai sekarang belum ada solusi,” sebutnya.

INFO lain :  Olahraga Jadi Hal Penting Jaga Imunitas

Sejumlah saran dan masukan tersebut disampaikan Komisi D setelah sehari sebelumnya para wakil rakyat turun ke lapangan guna melihat dari dekat sejumlah persoalan sosial imbas pembangunan tol Semarang-Demak.

Diketahui, pembangunan fisik tol Semarang-Demak seksi 1A oleh Kementerian PUPR segera dimulai. Diawali dengan peninggian jalan dan jembatan tol Kaligawe. Sejumlah rekayasa lalulintas sudah disiapkan guna meminimalisir dampak kemacetan. Ags/Ts)