RS Siap Hadapi Prediksi Gelombang Ketiga COVID-19

oleh

Solo – RSUD dr. Moewardi Surakarta siap menghadapi prediksi gelombang ketiga COVID-19 pada bulan Desember 2021.

Direktur RSUD dr Moewardi Surakarta Cahyono Hadi di Solo, Jumat (29/10/2021) mengatakan sudah memperbaiki sejumlah skenario untuk menghadapi adanya gelombang ketiga COVID-19.

“Mudah-mudahan tidak terjadi, namun kami sudah siapkan, skenario kami perbaiki,” katanya.

Ia mengatakan salah satu kesiapan yang dilakukan adalah dari sisi kapasitas di mana akan disamakan dengan pada periode Juli lalu di mana terjadi lonjakan kasus COVID-19 menyusul masuknya varian Delta ke Indonesia.

INFO lain :  18.444 UMKM Tunggu Pencairan Bantuan

“Juli kami bisa menampung hingga 650 pasien, jadi kalau ada gelombang tiga bisa sampai 650 juga,” katanya.

Selain itu, RSUD dr Moewardi sendiri juga mengelola RS Darurat Donohudan yang dikhususkan untuk perawatan pasien COVID-19.

“Kami siap juga, kalau saat ini kondisinya masih kosong,” katanya.

Bahkan, untuk ruang perawatan pasien COVID-19 di RSUD dr Moewardi hanya menggunakan satu ruangan yakni Ruang Melati dengan kapasitas kurang dari 50 pasien.

INFO lain :  Empat Sekolah di Solo Tutup Sementara Akibat COVID-19

“Kalau rata-rata dalam satu bulan ini dihuni di bawah 20 orang, dengan cadangan ini cukup. Kesiapan lain seperti tabung oksigen semoga tidak ada masalah, kami siap,” katanya.

Sebelumnya, pada kunjungannya ke Solo beberapa waktu lalu Juru Bicara Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro mengatakan banyak yang sudah dicanangkan oleh pemerintah termasuk peraturan dan peningkatan kewaspadaan mengenai protokol kesehatan sebagai antisipasi menghadapi gelombang ketiga COVID-19.

INFO lain :  Monumen Pers Solo Akan Dipugar Berkonsep "Reborn"

“Jadi dengan adanya jumlah kasus yang makin melandai dan penularan infeksi yang menurun banyak masyarakat yang lebih abai atau menyepelekan, makanya pemerintah membuat peraturan-peraturan, seperti misalnya berhubungan dengan kedatangan saya ini penerbangan di PCR,” katanya.

Menurut dia, aturan tersebut diberlakukan mengingat mobilitas masyarakat yang tinggi dan standar dari WHO atau Badan Kesehatan Dunia adalah masih harus menggunakan tes PCR atau tes usap.

Sumber Antara