BATANG – Menara SUTET yang masih dalam tahap pengerjaan penarikan kabel jaringan transmisi roboh pada Minggu (1/11) kemarin.
Peristiwa itu menyebabkan satu petani luka ringan dan satu lagi trauma. Pihak kontraktor bersama kepolisian masih menyelidiki kejadian tersebut.
Seorang petani yang mengalami luka akibat kejadian itu, Fahrudin (55), menceritakan detik-detik robohnya menara tersebut. “Saya ke sawah karena merupakan saluran irigasi. Saat itu memang masih ada aktivitas di SUTET,” kata Fahrudin saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (2/11).
Selain dirinya, ada juga petani lainnya yakni Turyati (57) dan suaminya yang tengah membersihkan lahan bengkoang yang berada ada di dekat SUTET, Desa Kebumen, Kecamatan Tersono itu, Minggu (1/11). Peristiwa itu terjadi pada sekitar pukul 09.50 WIB.
“Saya pertama kali dengar suara pertama, bunyinya ‘kretek’ kaya gitu. Agak keras. Saya tanya ke petugas tower, adakah yang di atas sana (tower), dijawab (oleh petugas) tidak ada. Tapi aktivitas masih menarik kawat itu,” katanya.
Sekitar dua menit kemudian, disusul suara yang sama untuk kedua kalinya. Menurut Fahrudin, suara kedua ini lebih kencang dibanding yang pertama. Saat itu dia langsung berlari ke arah jalan.
“Saya lari sambil melihat. Kemudian muncul suara ketiga yang lebih keras. Mak kretek bruk! Tower terjatuh dengan cepat. Kalaupun ada orang di sisi selatan, pasti tidak akan bisa terselamatkan, tidak bisa menghindar walaupun sekencang apapun larinya,” jelasnya.
Saat berlari ke arah jalan, tiba-tiba dia merasakan perih di mata sebelah kirinya dan pingsan.
“Saya langsung pingsan. Tidak tahu berapa lama. Hanya saja saya bangun bingung, masih di tengah sawah. Darah dari bawah mata ini, mengucur. Tidak tahu kena apa. Saya sumbat dengan daun singkong,” katanya.
Bupati Batang, Wihaji, menjelaskan peristiwa robohnya tower SUTET baru pertama kali terjadi di wilayahnya. Sebelumnya Wihaji juga telah menjelaskan tower tersebut roboh saat proses pemasangan kabel tower SUTET 136 transmisi 500 KV jaringan Batang-Ungaran.
Berdasarkan informasi, peristiwa ini tak berpengaruh pada jaringan listrik. Penarikan kabel tersebut, kata Wihaji, dilakukan dari Tower 151 masuk Desa Dlisen, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Diduga pada saat penarikan kabel tersebut terjadi human error.
Di mana pada saat penarikan, jelas Wihaji, kabel yang ditarik tersebut sudah sesuai ketentuan. Pengawas yang berada di Tower 136 sudah memberikan kode (STOP) dengan menggunakan pesawat radio handy talky (HT).
Namun karyawan atau petugas pada tower 151 masih melakukan penarikan kabel, sehingga tower tidak kuat menahan dan roboh ke arah barat, dan ujung tower terseret sejauh 100 meter. “Akibatnya, tower tidak kuat menahan tarikan hingga sayap tower tertarik dan roboh,” tandasnya. (bta)















