BREBES – Penjual telur asin di Kabupaten Brebes, terpukul akibat kebijakan larangan mudik Lebaran 2020.
Salah satu pengusaha telur asin di Desa Gandasuli, Kecamatan Brebes Didit Ariyanto (45) mengatakan, tak bisa mengharapkan peningkatan penjualan pada momen mudik Lebaran tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebab, pemerintah sudah mengeluarkan keputusan larangan mudik.
“Dampak larangan mudik luar biasa. Kita ini kan menjual oleh-oleh khas. Harapannya yang beli dari orang yang pelancong atau pemudik dari Jakarta. Sekarang tidak bisa sama sekali,” ujarnya, Jumat (8/5).
Didit mengungkapkan, setiap arus mudik Lebaran, telur asin yang harus disiapkan mencapai 10.000 hingga 15.000 butir agar bisa memenuhi permintaan yang melonjak. Bahkan jumlahnya bisa lebih banyak lagi saat arus balik.
“Sekarang, sampai diobral dan banting harga jadi Rp 1.500 per butir saja belum tentu laku. Kadang-kadang saja laku,” ungkap Didit.
Anjloknya penjualan membuat Didit berhenti memproduksi telur asin untuk dijual. Pasalnya, stok telur yang sudah diasinkan masih menumpuk.
“Biasanya pengasinan tiap minggu. Ini sudah dua bulan belum melakukan pengasinan karena stoknya masih banyak. Sudah hampir 60 hari belum keluar. Padahal mestinya stok asinan hanya sampai 15 hari,” ujarnya.
Sejauh ini, penjualan telur asin menurun hampir 90 % sejak pandemi Covid-19. Pada hari-hari normal, toko telur asin Tip Top milik Didit bisa menjual telur asin hingga 4.000 butir per hari. Namun sejak satu bulan terakhir, telur asin yang terjual hanya berkisar 100 hingga 200 butir per hari.
“Penjualan di rest area dan di pantura sudah sepi. Pengiriman ke Jakarta juga sudah dibatasi, angkutannya tidak ada,” sebutnya.
Didit berharap ada bantuan stimulus dari pemerintah agar usahanya bisa tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir.
“Harapannya ya ada bantuan. Misalnya di rest area ada keringanan atau kalau bisa sewa kios digratiskan. Kami sudah mengajukan tapi belum ada jawaban,” tandasnya, (mht)
















