MAGELANG – Kota Magelang hingga saat ini masih menghadapi tantangan penyediaan air minum untuk pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
“Pemkot Magelang berupaya mendukung pencapaian ketersediaan akses air minum dan sanitasi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina, Kamis (12/3).
Ia menyebut sejumlah tantangan tersebut, antara lain tentang cakupan akses air minum pada 2019 yang sebesar 94,64 persen, PDAM Kota Magelang masih memiliki angka kehilangan air lebih dari 30 persen sehingga sebagian perlu dilakukan perbaikan atau penggantian jaringan perpipaan dan penambahan kapasitas produksi Sistem Penyediaan Air Minum.
Selain itu, katanya, terkait dengan pelayanan sanitasi, yaitu cakupan akses sanitasi pada 2019 yang masih 97 persen.
Ia menjelaskan cakupan itu belum dapat dipastikan berapa persen yang merupakan sanitasi layak dan aman menurut standar Sustainable Development Goals (SDGs).
Selain itu, katanya, meski Kota Magelang memiliki Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), pengelolaannya belum optimal.
Oleh karena itu, pemkot terus berupaya memperbaiki berbagai sarana dan prasarana, utamanya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam penyediaan air minum, sanitasi, dan perbaikan perilaku higiene.
Pemkot juga menggandeng kemitraan dengan berbagai pihak, yakni Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene-Penyehatan Lingkungan Untuk Semua (IUWASH PLUS), Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), dunia usaha, seperti kredit sanitasi di Bank Magelang, berbagai organisasi masyarakat, serta dengan Forum CSR. (mht)















