11.702 Rumah Rusak, 35 Jiwa Jadi Korban

oleh
oleh

SEMARANG – Memasuki tahun 2020, provinsi Jawa Tengah meningkatkan kesiapsiagaannya menghadapi berbagai ancaman bencana. Hal ini tak lepas dari datangnya puncak musim penghujan di provinsi ini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sudaryanto mengatakan, BMKG telah memprediksikan, bahwa puncak musim penghujan akan terjadi pada Januari-Februari 2020.

“Tentunya akan banyak potensi bencana selama musim penghujan ini,” kata Sudaryanto, Kamis (2/1).

Sudaryanto mengatakan, kesiapsiagaan itu dilakukan awal tahun ini bertepatan dengan masuknya musim penghujan.

“Di mana saat peralihan musim atau masa pancaroba tersebut, dimungkinkan terjadinya cuaca ekstrem yang memicu terjadinya bencana alam seperti angin kencang, petir, longsor dan banjir,” sebutnya.

INFO lain :  Walikota Tegal Sampaikan Misi Pembangunan di Rapat Paripurna Istimewa DPRD

Di Jawa Tengah, lanjut Sudaryanto, setidaknya ada 1.691 desa yang rawan bencana banjir, 2.136 desa rawan bencana longsor, dan 658 desa rawan bencana angin puting beliung.

Untuk mengantisipasi itu, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan seperti membuat Desa Tangguh Bencana (Destana), pemasangan Early Warning System (EWS), serta simulasi dan pelatihan bagi masyarakat.

INFO lain :  Ganjar Pranowo Menggelar Lomba Pidato Ala Bung Karno

Selain itu, Pemprov Jateng juga menerbitkan surat edaran kepada bupati/ wali kota se-Jawa Tengah untuk mengantisipasi dampak musim penghujan. Pihaknya juga terus menginventarisasi lokasi rawan bencana banjir dan longsor, mengecek tanggul-tanggul rawan serta melakukan pengadaan logistik untuk persiapan bencana.

Sepanjang Januari hingga Desember 2019 lalu, Sudaryanto menerangkan, ada 2.179 bencana alam yang terjadi di Jawa Tengah. Akibat bencana itu, mengakibatkan sebanyak 35 korban meninggal dunia dan kerugian hingga miliaran rupiah.

“Bencana terbesar adalah kebakaran dengan total 645 kejadian, disusul angin puting beliung 572 kejadian, tanah longsor 504 kejadian dan kebakaran hutan lahan 294 kejadian. Banjir cukup sedikit, yakni sebanyak 151 kejadian,” terangnya.

INFO lain :  Revitalisasi Taman Balekambang Solo Dimulai Tahun 2022

Berbagai bencana alam tersebut, lanjut Sudaryanto, telah merusakkan rumah penduduk. Tercatat sebanyak 1.200 rumah mengalami rusak berat, 1.832 rumah rusak sedang, dan 8.670 rumah mengalami rusak ringan.

“Kepada para korban tersebut, kami telah memberikan santunan sesuai Pergub 77 tahun 2014 tentang pemberian bantuan kepada korban bencana alam,” tandasnya.(mht)