Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang, Budiyanto menyampakan idealnya pendidikan tidak hanya melahirkan pelajar yang pintar, namun juga bermoral. Mewujudkan hal itu, di sinilah pentingnya peran dari semua pihak di penguatan pendidikan karakter.
“Ini adalah tanggungjawab bersama, antara keluarga, pemerintah dan masyarakat. Tugas orang tua tidak hanya soal menyejahterakan anaknya, tapi juga membentuk dari awal karakter anak. Di sekolah, guru tidak hanya mendidik tapi juga menumbuhkembangkan karakter anak didik. Dan tugas masyarakat juga harus peduli jika ada gerombolan, aktivitas kelompok anak yang mencurigakan, lapor segera ke pihak keamanan,” terangnya.
Terlebih di era digital saat ini, di mana informasi bisa diakses siapapun tanpa memandang usia. Pendidikan karakter bakal menjadi benteng kokoh menghalau efek negatif teknologi informasi.
“Perlu pendampingan dan kontrol ketat dari orang tua ketika anak mengakses informasi dari gadget. Jangan sampai anak-anak menonton film yang tidak pantas, atau masuk dalam komunitas grup pergaulan bebas hingga narkoba. Jadi Semarang bebas narkoba, kreak dan bebas pergaulan bebas bisa terwujud,” tegas dia.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto, mewakili Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, menyampaikan Pemkot Semarang memberi perhatian besar di dunia pendidikan. Salah satunya melalui program pengambilan ijazah siswa sekolah swasta yang terkendala biaya pendidikan.
“Jangan sampai anak didik kita terlantar karena tak mendapatkan selembar dokumen (ijazah). Karena sejatinya pendidikan bukanlah masalah nilai atau ijazah, tapi pembangunan karakter,” katanya. []










