Dugderan di Semarang, Tradisi Penanda Ramadan yang Unik dan Bernilai Sejarah

oleh
Tradisi Dugderan di Semarang
Tradisi Dugderan di Kota Semarang, tidak hanya jadi penanda datangnya Ramadan, tapi juga wujud warisan budaya leluhur. (Foto: Ist)

SemarangINFOPlus. Tradisi Dugderan di Kota Semarang bukan sekadar perayaan tahunan penanda datangnya bulan suci Ramadan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

Dosen senior di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Mukhamad Shokheh, Ph.D menuturkan bahwa Dugderan merupakan tradisi khas Kota Semarang yang mencerminkan perpaduan budaya dan agama dalam masyarakat.

Setiap daerah memiliki cara unik dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Di beberapa daerah seperti Magelang dan Temanggung, masyarakat menjalankan tradisi Adusan atau Padusan, yaitu mandi di sumber air atau tempat pemandian sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.

INFO lain :  Setubuhi Anak Bawah Umur, Seorang Kakek Di Banyumas Di Tangkap Polisi 

Sementara, di Kota Semarang sendiri, masyarakat memiliki tradisi yang namanya Dugderan, sebuah tradisi yang khas dan tidak ditemukan di daerah lain.

“Tradisi ini menjadi bagian dari identitas budaya Semarang dalam menyambut Ramadan,” ungkap dia, Rabu (26/2).

Sejarah Dugderan dapat ditelusuri hingga tahun 1881 pada masa kepemimpinan Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Saat itu, masyarakat belum memiliki sistem komunikasi yang efektif untuk mengetahui awal Ramadan.

INFO lain :  KPU Kota Semarang Lakukan Sosialisasi Pindah Memilih di Kawasan Eks Lokalisasi Sunan Kuning

Sebagai solusi, sang Bupati menciptakan inovasi berupa pengumuman resmi yang ditandai dengan bunyi bedug atau dug sebanyak 17 kali dan dentuman meriam atau der sebanyak 7 kali. Dari sinilah istilah Dugderan berasal.

Seiring perkembangan zaman, Dugderan mengalami transformasi. Jika pada masa lalu, meriam digunakan sebagai bagian dari prosesi, kini perayaan berkembang dengan aktivitas yang lebih beragam yang mengandung unsur budaya dan ekonomi.

Masyarakat Semarang tetap melestarikan tradisi ini dengan berbagai kegiatan, termasuk pawai budaya, serta pasar rakyat yang menyuguhkan berbagai kerajinan, permainan tradisional dan kebutuhan Ramadan.

INFO lain :  Relawan Bala Gibran Solid Dukung Gibran Cawapres Prabowo

Salah satu ikon Dugderan yang terkenal adalah Warak Ngendog, simbol akulturasi budaya yang merepresentasikan harmoni masyarakat Semarang.

“Dugderan bukan sekadar penanda datangnya Ramadan, tetapi juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk merayakan dan menggerakkan perekonomian,” lanjutnya.

Ditambahkan, lebih dari sekadar perayaan, Dugderan kini menjadi bagian dari identitas Kota Semarang. Selain melestarikan sejarah, tradisi ini juga berdampak pada ekonomi rakyat dengan menghadirkan peluang usaha bagi pedagang kecil.

“Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya dan agama saling mempengaruhi dan membentuk dinamika masyarakat,” ujarnya.