Semarang – INFOPlus. Stigma Jawa Tengah (Jateng) sebagai kandang Bateng atau basis massa pendukung dari PDI Perjuangan ternyata tidak membuat kader maupun pengurus Partai Ummat berkecil hati. Sebagai partai baru di Pemilu 2024, kondisi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri.
Demikian dikatakan Ketua DPW Partai Ummat Jateng Husein Alamsyah di sela memimpin acara Konsolidasi dan Pemantapan Strategi Pemenangan Pemilu Partai Ummat Jawa Tengah 2024 di Kota Semarang, Sabtu (24/6). Hadir langsung dalam konsolidasi tersebut Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi.
“Jadi kami tidak merasa ini sebagai kandang Banteng. Karena ternyata memang Jawa Tengah terbuka. Terbukti hari ini 250 bacaleg ketika saya tanya apakah kamu merasa ini (Jateng) kandang Banteng, oh tidak,” tegas dia.
Menurut Husein, dari pengalamannya selama ini, masyarakat pemilih di Jateng lebih cenderung bersikap dan berpandangan terbuka kepada semua partai politik. Keyakinan itu, ditambah sejumlah strategi pemenangan yang telah disiapkan, membuat pihaknya optimis bisa mendulang suara di Jateng.
“Jateng ini terbuka, 29 juta lho pemilihnya. Jadi kami tidak ada kekhawatiran sama sekali, kami optimis,” ujar dia.
Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi senada dengan pendapat koleganya di Jateng. Bagi dia, jika anggapan Jateng merupakan kandang Banteng dijustifikasi sebagai pembenaran, hal itu adalah salah.
“Jadi ini yang kami bahas dalam rapat terbatas juga dengan DPW. Kalau Jateng ini menjadi kandang Bateng dan menjadi justifikasi kami untuk ya sudahlah apa adanya Partai Ummat, saya sampaikan itu pikiran yang salah,” tegasnya.
Ridho menambahkan stigma tersebut justru menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa partainya bisa mendulang suara di Jateng. Lewat sejumlah strategi yang tengah di matangkan, ia optimis partainya bisa menempatkan wakil di legislatif setempat.
“Kami memikirkan pendekatan yang berbeda, contohnya pendekatan berbasis kultur, ini yang sedang kami ramu. Justru ini menjadi tantangan kami, bagaimana pendekatan-pendekatan yang agak eksperiental tapi serius coba kami terapkan di sini,” sebut dia.
Selain itu, strategi pendekatan dengan bahasa-bahasa universal, di antaranya lewat
esenian, juga diyakini bakal cukup ampuh untuk memecah hegemoni yang ada saat ini. Tentu saja dengan menyasar pemilih generasi zilenial dan milenial.
“60 persen adalah pemilih zilenial dan milenial, kami akan dekati dengan bahasa-bahasa universal, bahasa kesenian dan segala macam, yang ini bisa memperoleh setangkup prosentase yang lebih besar dibanding partai-partai lain berbasis Islam,” imbuh dia. (Ags/Ts)
















