Jakarta-INFOPlus. Wakil Rektor II Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Didi Rochyadi Mangkupradja belakangan ini sangat prihatin dan gemas dengan terjadinya kasus pembunuhan yang terus terjadi di Indonesia. Mantan anggota Polisi berpangkat Kombes tersebut punya keinginan kuat dapat berkonstribusi untuk masyarakat, agar perbuatan kriminal yang terjadi masyarakat tersebut dapat dihentikan. Berkait dengan hal tersebut, dalam waktu dekat Didi (panggilan akrabnya) akan segera menerbitkan buku berjudul ” Perilaku Kejahatan Mutilasi Sebuah Fenomena Psikologis Ekstrims.”
Dalam buku tersebut akan diungkapkan permasalahan-permasalahan yang menjadi latar belakang dan motif seseorang melakukan pembunuhan, bahkan sampai pada pembunuhan mutilasi.
“Pembunuhan yang terus terjadi, terutama pembunuhan dengan mutilasi, harus menjadi keprihatinan semua pihak, terutama masyarakat akademisi, agar kejadian tragis yang menakutkan dan membuat masyarakat panik ini tidak terjadi lagi,” harap Didi.
Lebih lanjut Didi Rochyadi Mangkupradja mengatakan bahwa buku yang akan diterbitkanya akan mengungkap latar belakang seseorang melakukkan pembunuhan mutilasi, ide membunuh dan bunuh diri, misi dibalik pembunuhan sadis mutilasi.
Selain itu, dalam buku tersebut juga digambarkan bagaimana seseorang yang mengalami distress psikologis dan narsistik melakukkan pembunuhan mutilasi. Kemudian, strategi menghindarkan dari perilaku pembunuhan dan mutilasi. Diuraikan juga bagaimana melakukan pendampingan bagi individu yang mengalami distress psikologis dan narsisme, serta bipolar.
Menggandeng Penulis Handal
Dalam penerbitan buku tersebut Didi Rochyadi Mangkupradja menggandeng beberapa penulis handal antara lain Dr. Silviana, M.Psi. Psikolog, Dr. Netty Merdiaty, M.Si, Dr. Erick Saut H Hutahaean, Dr. Tugimin Supriyadi,Psi, dan Ferdy Mazamil, M.Psi., Psikolog.
Seperti kita ketahui belakangan ini berita-berita heboh tentang terjadinya pembunuhan terus terjadi, seperti di Bekasi, seseorang membunuh dua orang sekaliguas, yang dilatar belakangi masalah utang piutang, dan kemudian tersangka bunuh diri. Di Semarang, terjadi pembunuhan disertai mutilasi, karena pelaku merasa direndahkan martabatnya. Kemudian muncul juga pembunuhan di Solo dan Sukoharjo. Dan kasus pembunuhan lainnya masih terus terjadi. (IF.1/Ts)
















