Solo – Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah mulai menyiagakan sumber daya manusia (SDM0 dan sarana prasarana dalam menghadapi bencana di musim penghujan.
“Memasuki musim penghujan ini diperlukan tindakan antisipasi ekstra karena bencana bisa terjadi secara tidak terduga. Potensi bencana yang sering terjadi di Solo antara lain banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung,” kata Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka pada Apel Kesiapsiagaan Bencana di Solo, Rabu (17/11/2021).
Oleh karena itu, kata dia, apel tersebut digelar untuk mengetahui sejauh mana kesiapan pihak-pihak yang bersinggungan dengan mitigasi bencana baik SDM maupun sarana prasarana pendukung.
Pihaknya mencatat untuk di Kota Solo ada sebanyak 15 kelurahan rawan bencana yang tersebar di setiap kecamatan. Untuk jumlah kasus kebencanaan yang terjadi belum lama ini di antaranya delapan kasus pohon tumbang dan luapan air dari Sungai Jenes.
Ia mengatakan dari kasus yang terjadi tidak menimbulkan korban jiwa tetapi kerugian materi karena pohon tumbang menimpa mobil dan luapan air dari Sungai Jenes yang masuk ke rumah warga dengan ketinggian air sekitar 20-30 cm.
“Beberapa yang kena di antaranya di wilayah Semanggi, Mojo, Joyosuran, Kedunglumbu, dan Sangkrah. Selain itu, juga ada titik-titik genangan air, di antaranya di Pasar Gede ke arah Sanggung, Jalan Urip Sumoharjo, Viaduk Gilingan, depan Kampus Unisri Kadipiro, Jalan Sumpah Pemuda, dan Jalan Adi Sucipto,” katanya.
Selanjutnya, juga terjadi tanah longsor di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres akibat kikisan air hujan dan menimpa tiga unit rumah. Terkait hal ini, dikatakannya, Pemerintah Kota Surakarta memberikan solusi berupa perbaikan talut dan pembiayaan renovasi rumah yang roboh akibat longsor maupun hujan.
Sementara itu, untuk meminimalisasi terjadinya kerugian materi maupun korban jiwa, pihaknya berharap agar mitra kerja terkait bisa meningkatkan koordinasi dan mempercepat komunikasi.
“Saling jaga kesiapsiagaan, peralatan pendukung siap setiap saat, diperlukan respon cepat antara pemerintah, perguruan tinggi, SAR, relawan, dan media massa untuk informasi bencana agar cepat, tepat, efisien, dan efektif,” katanya.
Melalui upaya tersebut, ia berharap upaya mitigasi bencana bisa lebih dimaksimalkan. Selain itu, diharapkan warga juga lebih peduli terhadap penanggulangan bencana termasuk dengan menjaga lingkungan sekitar.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta Nico Agus Putranto mengatakan berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maka status kebencanaan di Solo berada dalam kategori rendah.
“Kalau cuacanya ekstrem kita masuk sedang, jadi nggak rawan atau tinggi. Kalau ancaman paling besar di Solo adalah genangan air dan banjir. Sedangkan tanah longsor di titik-titik tertentu,” katanya.
Ia mengatakan dari seluruh daerah yang ada di Kota Solo, untuk rawan bencana yang paling tinggi yakni di Pasar Kliwon karena bersinggungan langsung dengan Sungai Bengawan Solo.
“Namun untuk genangan air ini durasinya tidak lama, hanya setengah jam kemudian sudah surut lagi,” demikian Nico Agus Putranto.
Sumber Antara















