Melanggar PPKM Darurat, Puluhan Toko Cenderamata-Batik di Solo Ditutup

oleh -54 views

Solo – Puluhan pertokoan cenderamata maupun batik di Solo, Jawa Tengah hari ini ditutup karena dinilai melanggar aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Penutupan pertokoan ini diantaranya dilakukan di Pasar Cinderamata, Kampung Batik Kauman, dan Pertokoan di Jalan Yos Sudarso, Solo.

Pantauan di lokasi, Senin (5/7/2021), toko-toko yang diminta tutup itu diberi stiker bertuliskan, “Berdasarkan Instruksi Mendagri No.15 dan 16 Tahun 2021 dan SE Walikota Surakarta no.067/2083 tentang PPKM Darurat tempat ini ditutup sementara mulai tanggal 03 s.d 20 Juli 2021. Pelanggar dikenakan sanksi sesuai Instruksi Mendagri no. 16 tahun 2021”. Sesuai aturan PPKM Darurat ini, toko-toko itu diminta tutup selama 3-20 Juli 2021.

Penutupan toko-toko ini dilakukan oleh tim gabungan dari Pemkot Solo, Kejaksaan, TNI dan Polri. Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa menyebut pertokoan yang diminta tutup ini bukan termasuk toko yang menyediakan kebutuhan pokok ataupun sektor esensial.

“Dalam kegiatan ini sekaligus menyampaikan kepada masyarakat bahwa ada wilayah-wilayah yang tidak boleh beraktivitas. Seperti pertokoan nonesensial, yakni pertokoan yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan pokok,” ujar Teguh di sela memimpin razia di kawasan Nonongan, Jl Yos Sudarso, Solo, hari ini.

Teguh menuturkan akan ada penindakan yang dilakukan bagi pelanggar aturan PPKM Darurat. Sanksi paling tegas yakni pencabutan izin.

“Kenapa kami melibatkan dari kejaksaan karena nanti akan ada penindakan. Sanksinya sampai pencabutan izin, karena ini darurat. Darurat itu tidak ada diskusi lagi,” tegas dia.

Diwawancara terpisah, salah seorang pengusaha dan pemilik Batik Gunawan di Kampung Batik Kauman, Gunawan Setiawan, mengaku sangat prihatin dengan adanya penutupan ini. Dia mengaku keberatan karena penutupan toko batiknya selama 20 hari.

“Apalagi penutupan dilakukan sampai dengan tanggal 20 Juli. Ini efeknya tidak hanya sampai 20 hari saja, tapi bisa sampai sebulan dua bulan, karena untuk membangkitkan itu sulit,” ujar Gunawan.

Dengan adanya kebijakan ini, Gunawan berencana akan mencari alternatif terbaik agar usahanya tetap bisa berjalan. Dia juga memikirkan nasib para karyawannya agar tetap bisa bekerja.

“Tetapi kami juga senang karena Pak Wawali juga rawuh ke sini, mengunjungi dan memberikan dukungan. Ini yang kita cari, jadi peran pemerintah tidak hanya menempel stiker saja tetapi juga mendengar masukan dari warga,” tuturnya.

Sumber Detik

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.