Kembangkan Kopi Luwak Karena Harga Fantastis

oleh -183 views

PURBALINGGA – Segelas kopi nikmat tersaji dari proses yang tidak singkat. Bukan hanya proses penyajiannya, melainkan juga proses perolehan biji kopi terbaik. Apalagi bila yang disajikan adalah minuman kopi luwak liar, yakni hasil olahan biji kopi dari kotoran binatang luwak liar.

Meski tak mudah dibuat, nyatanya olahan kopi luwak liar punya banyak peminat karena rasanya yang berbeda dari olahan kopi pada umumnya. Kopi inilah yang saat ini tengah dikembangkan oleh para pegiat kopi di Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga.

Muhammad Faiz, salah satu pegiat kopi Desa Kramat mengatakan kopi luwak liar mulai dikembangkan karena harganya yang cukup fantastis. Biji kopinya pun harus dicarinya hingga ke dalam kawasan hutan yang banyak ditumbuhi tanaman kopi, di wilayah Desa Kramat.

Lokasi hutan di Desa Kramat menurutnya cukup asri dan masih banyak dijumpai luwak liar yang mencari makan di area perkebunan kopi milik Perhutani.

“Jadi luwaknya ini bukan luwak peliharaan tetapi luwak yang masih berkeliaran di dalam hutan. Jadi mencari biji kopi dari kotoran luwaknya pun perlu kesabaran. Kotoran yang diambil yang masih segar dan tidak berbau justru wangi seperti aroma pandan,” ujarnya, Sabtu (15/8).

Ditambahkan, pencarian kotoran luwak liar tidaklah mudah. Faiz harus menelusuri hutan yang masih dipenuhi semak belukar, dan terletak cukup jauh dari pemukiman warga. Ia juga harus memetakan lokasi luwak membuang kotorannya, dan pohon-pohon kopi yang sudah berbuah matang.

“Kemampuan luwak ini akan mencari buah kopi yang sudah matang. Tapi memang tidak setiap hari bisa langsung mendapatkan kotoran luwaknya. Harus betul-betul sabar untuk mencarinya,” terang Faiz.

Jumlah kotoran luwak yang bisa dikumpulkan dalam satu hari tak menentu. Jika sedang beruntung, lanjut Faiz, dalam satu bulan jumlah perolehan kotoran luwak hanya berkisar 1-2 kilogram. Setelah terkumpul, kotoran luwak tersebut lantas dibersihkan, lalu biji kopi yang terkumpul dijemur selama kurang lebih 10 hari sampai bijinya siap dipanggang.

Menurut Faiz, produk kopinya dipasarkan dalam bentuk biji yang sudah dipanggang (roastbean), serta bubuk kopi seharga Rp100 ribu per 11 gram. Lebih lanjut dijelaskan, produk kopinya dinamai Kopi Luwak liar Sigotak.

“Alhamdulillah Kopi Luwak Liar Sigotak sudah berlabel halal dan rasa kopinya sendiri lebih kental, legit dan rasa asamnya muncul karena kopi ini sudah melalui fermentasi secara alami dan tercampur dengan buah lain di hutan,” tuturnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Kabupaten Purbalingga, Budi Susetyono, mengatakan, kopi luwak liar olahan pegiat kopi Desa Kramat nantinya bisa terus dikembangkan dengan baik. Apalagi saat ini sudah banyak bermunculan para pecinta kopi bahkan kedai-kedai kopi di wilayah Purbalingga.

“Tentunya ini menjadi peluang yang cukup baik untuk pegiat kopi Desa Kramat untuk bisa memasarkan dan mengembangkan produk Kopi Luwak Liar agar bisa tembus pasar nasional,” kata Budi. (pur)

Tinggalkan Balasan