Tak Perlu Pakai Gadget, Belajar Lewat Siaran Radio

oleh
oleh

PEKALONGAN – Selama masa pandemi virus corona (Covid-19), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terus menginstruksikan agar penyelenggaraan pendidikan bisa dilakukan sekreatif mungkin.

Tanpa merepotkan siswa, maupun orang tua, dan tentu tetap memperhatikan protokol kesehatan.


 
Berangkat dari situlah, sebuah sekolah di Kabupaten Pekalongan, melakukan penyelenggaraan pendidikan yang mereka anggap efektif. Yaitu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Tegalontar, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan.

Sekolah memanfaatkan radio komunitas sebagai metode pembelajaran jarak jauh bagi murid-murid sekolah dasar. Mengingat masih banyak orang tua murid tidak memiliki telepon seluler dan akses internet di tengah pandemi Covid-19.

INFO lain :  Sodomi 30 Anak di Hutan Pinus di Cilacap


 
“Kali ini pelajaran kita adalah pendidikan Agama Islam. Tolong diperhatikan, anak-anak,” buka Zaenuri, guru pendidikan Agama Islam, saat menyiarkan materi pelajarannya di studio Radio PPK FM Sragi di Desa Purwodadi, Kecamatan Sragi, Pekalongan, Selasa (4/8).


 
Guru tersebut memberikan materi pelajaran kepada siswanya melalui siaran radio. Seolah-olah sedang berada di muka kelas, Zaenuri dengan jelas dan gamblang memberikan materi pelajaran Agama Islam kepada siswanya.

Melalui mikrofon radio, Zaenuri menjelma menjadi penyiar radio. Dengan konten pembelajarannya adalah soal hari kiamat, dan tanda-tandanya.


 
Kepala SDN 01 Tegalontar, Yoso menerangkan, program mengajar melalui siaran radio komunitas itu berjalan hampir 1,5 bulan.

INFO lain :  Kontes Sangrai, Gali Penyajian Kopi Tradisional

Tujuannya, untuk mengatasi kendala banyaknya siswa yang tak memiliki gawai atau gadget untuk keperluan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dalam jaringan (daring).

Sejak awal Maret, sekolah memberlakukan PJJ dengan menggunakan daring via gawai atau tepatnya melalui aplikasi WhatsApp (WA), ternyata hasilnya tak maksimal.


 
“Hasilnya kurang maksimal (via WA), karena kurang lebih 50 persen dari mereka tidak bisa menerima. Mereka tidak punya (handphone/HP), ada yang punya tapi HP-nya HP lama. Ada juga yang sudah punya HP model sekarang tapi terkendala kuota,” kata Yoso ditemui di studio radio PPK FM Sragi.

INFO lain :  Kejar 5.002 Warga Rekam e-KTP, Agar Bisa Nyoblos


 
Melihat kondisi tersebut, imbuhnya, pihak sekolah mencari solusi lebih efektif. Solusi memanfaatkan stasiun radio lokal pun tercetus. Selain siaran radio bisa lebih banyak didengar, juga tidak perlu kuota internet.  

Penyampaian pembelajaran melalui siaran radio pun dilakukan. Meski mereka akui jika dengan program itu, maka mau tak mau guru harus menyampaikan materi pelajaran dengan cara menyiarkan.


 
“Dengan bimbingan pengelola radio PPK FM, mereka (guru) bisa menyesuaikan diri. Tanpa bantuan mereka, saya tidak mungkin melaksanakan kegiatan ini,” tuturnya.