PATI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, agar tidak menebangi pepohonan di Pegunungan Kendeng.
Hal ini sebagai upaya mengurangi dampak bencana alam, seperti banjir bandang di daerah setempat.
“Mulai sekarang jangan mudah menebang dan menggunduli lahan di Pegunungan Kendeng,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo saat menghadiri kegiatan penghijauan di Pegunungan Kendeng di Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, Pati, Rabu (15/1).
Selain menanam tanaman keras, Doni berharap warga bisa menanam tumbuhan lain di sela-sela pohon tersebut.
“Berdasarkan data dari International Trade Center yang dihimpun BNPB, saat ini kebutuhan global atsiri, aroma terapi, kosmetik, dan farmasi yang bersumber dari rempah-rempah, nilainya bahkan mencapai USD 427 miliar,” sebutnya.
Jenderal TNI bintang tiga ini menceritakan, negara Indonesia dulunya juga terkenal terkena sebagai penghasil penghasil rempah-rempah.
“Bahkan salah satu perusahaan Belanda yang dikenal dengan VOC bisa meraup untung hingga USD 7,9 triliun dari hasil penjualan rempah-rempah,” katanya.
Ia bahkan menyinggung soal komoditi porang yang kini sedang populer dipakai sebagai bahan pembuatan mie shirataki dan beras shirataki.
“Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil porang terbesar di dunia. Di sela-sela tanaman keras warga bisa tanam tanaman porang,” terangnya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berharap tanaman yang ada di bawahnya juga memiliki nilai jual dan banyak dibutuhkan oleh dunia industri.
Terkait kondisi Pegunungan Kendeng, kata dia, terdapat 12.000 hektare lahan kritis dan membutuhkan sekitar 4,8 juta pohon untuk menghijaukan kembali.
Jika penghijauan berhasil, dia optimistis banjir bandang yang kerap terjadi di Sukolilo dan Kayen dapat berkurang.
“Saat ini di hulu gundul, air hujan nggak ada resapan. Sementara itu ada sedimentasi sungai, sehingga sungainya dangkal,” ujarnya.
Masyarakat setempat disarankan menanam tanaman di bawah teduhan berupa tanaman rempah-rempah, dan tanaman lain yang mempunyai nilai jual dan dibutuhkan oleh dunia industri.
“Jika memiliki nilai jual, kemungkinan kecil mereka akan menebangnya,” ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, di Jawa Tengah banyak industri jamu yang dimungkinkan membutuhkan pasokan rempah-rempah.(mht)













