Awas, Bencana di Jateng Mengintai di 2018

oleh

 

Ilustrasi bencana

 

Semarang (INFOPlus) – Bencana alam masih mengancam dan berpotensi terjadi di Jawa Tengah pada tahun 2018 ini. Atas hal itu, anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah Karsono meminta seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk selalu mewaspadai potensi bencana alam yang diprediksi masih akan terus mengintai di awal tahun 2018.

Terbaru, Angin puting beliung menerjang ratusan rumah di Pemalang, Minggu (31/12) lalu. Akibatnya sekitar 100-an rumah rusak dan belasan warga luka hingga mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat. Bencana tersebut melanda empat desa di Kecamatan Pemalang yakni Desa Bojongnangka, Desa Tambakrejo, Kelurahan Kebondalem dan Kelurahan Bojongbata.

INFO lain :  Aplikasi Pembeda Jenis Batik Diciptakan Enam Mahasiswa di Jateng

Karsono mengatakan bahwa Jateng termasuk wilayah yang rawan bencana terutama saat ini sedang menghadapi perubahan iklim. Dampak dari perubahan iklim menciptakan cuaca ektream yang berpotensi terjadi bencana besar.

“Banyak bencana yang timbul akibat cuaca ektream seperti, banjir, tanah longsor hingga angin puting beliung. Seperti yang terjadi di Pemalang, angin ini pusaran angin kencang dengan kecepatan angin cukup tinggi yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan,” katanya dalam keterangannya Selasa (2/1) di Semarang.

Dia mengatakan bahwa bencana angin puting beliung bisa terjadi kapan saja dan secara mendadak, sebagian besar angin badai ini tercipta melalui proses beberapa jam. “Bencana angin badai ini bisa terpantau melalui satelit. Satelit mampu untuk mengetahui arah angin topan, namun perubahan cuaca yang signifikan membuat bencana angin badai sulit untuk di prediksi,” ungkapnya.

INFO lain :  23.000 Kartini Bersholawat di Alun-Alun Kajen Pekalongan

Lebih lanjut, Karsono mengatakan bahwa ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk melakukan pengurangan risiko bencana (PRB) akibat dampak puting beliung ini.

Yang pertama, kata Karsono, masyarakat di Jateng, utamanya dengan wilayah rawan tersebut diusahakan memiliki struktur bangunan yang dapat memenuhi syarat teknis sehingga mampu untuk bertahan terhadap angin terutama angin besar.

“Di daerah rawan angin badai, perlu adanya standar bangunan untuk bisa memperhitungkan beban angin. Sehingga struktur bangun dapat bisa menahan angin, kemudian melakukan penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin,” ujarnya lagi.

INFO lain :  Tol Krapyak Ditutup Sementara

Disisi lain, dia mengatakan perlunya perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.

“Hendaknya rapikan pohon besar, rimbun, dan tinggi serta rapuh untuk mengurangi beban pada pohon tersebut, kemudian mengecek dan memperkuat bagunan nonpermanen maupun semipermanen seperti atap rumah yang sudah rapuh. Juga mengecek dan memperkuat bagunan konstruksi seperti papan reklame, dan baliho,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.